‘Melek Politik’ Bersama Kompas Saba Kampus

Adanya konglomerasi media menjadikan masyarakat Indonesia, terutama mahasiswa bersifat skeptis. Independensi dan netralitas suatu media pun dipertanyakan. Oleh karena itu, Kompas Saba Kampus hadir mencerahkan pandangan mahasiswa akan eksistensi suatu media dalam pemilu 2014 mendatang.

Universitas Multimedia Nusantara (UMN) terpilih menjadi salah satu tujuan Kompas Saba Kampus. Seminar yang dihadiri oleh Wakil Pemimpin Redaksi Kompas Budiman Tanuredjo dan Penulis Rene Suhardono rupanya telah menyigap perhatian banyak mahasiswa kampus milik Kompas Gramedia tersebut, Sabtu (26/4) lalu.

Sebelumnya, Kompas Saba Kampus juga telah hadir di beberapa universitas seperti, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Parahyangan (Unpar), dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Kendati Kompas Saba Kampus merupakan salah satu program baru di tahun 2013 dari Kompas Kampus, animo mahasiswa terhadap seminar ini sangat tinggi. Terbukti peserta di UMN mencapai 475 orang.

Banyak mahasiswa dari berbagai jurusan dan angkatan rela mengantri di Lobby UMN untuk mengikuti seminar dengan tema “Pemilu dan Peran Media” ini. Alasan keikutsertaan mereka pun beragam. Ada mahasiswa yang memang diwajibkan oleh dosen mata kuliah tertentu dan ada juga yang ingin mendalami salah satu bidang tertentu.

“Saya ingin menggali informasi lebih dalam di luar mata kuliah yang biasa saya dapatkan di kelas,” tutur Guido Caesar Pradistyan, mahasiswa Jurnalistik 2012 saat ditemui di meja registrasi.

Seminar pertama dibawakan oleh Budiman Tanuredjo yang membahas mengenai peran Kompas dalam pemilu di Indonesia. Mahasiswa terlihat sangat antusias mengikuti seminar yang diselenggarakan di Function Hall UMN. “Jurnalisme presisi merupakan dasar untuk liputan pemilu,” tegas Budiman seraya membuka seminarnya.

Jurnalisme presisi memang menjadi sikap dasar yang sangat penting dalam pemilu 2014 mendatang. Dengan sikap dasar itulah, maka tidak akan ada lagi kecurangan-kecurangan yang kerap terjadi saat pemilu. Oleh karena itu, pada pemilu 2014 nanti Kompas akan melakukan survei elektabilitas, hitung cepat, dan exit poll. Hal ini menunjukkan bahwa Kompas tidak lagi sekadar memberitakan realitas dan fenomena sosial, namun juga jurnalisme presisi.

Namun demikian, Budiman mengakui, mahasiswa pun harus turut andil dalam pemilu. Terlebih saat ini banyak mahasiswa mulai acuh tak acuh terhadap dunia politik. Ironisnya, mereka hanya melihat pemilu sebagai pemenuhan kewajiban mereka terhadap negara tanpa ada rasa tanggung jawab. Bahkan, kerap muncul istilah golput di kalangan muda saat ini.

Lingkungan kampus dikenal sebagai penggerak awal dalam perubahan. Diskusi politik di kampus terbukti dapat menciptakan kemerdekaan. Tumbangnya Orde Baru yang KKN pun dipelopori oleh gerakan kepemudaan dan mahasiswa. Di sinilah pentingya kebebasan mahasiswa dalam berunjuk rasa selama itu mempunyai kepentingan yang jelas dan tidak terikat akan kepentingan golongan tertentu. Dalam berunjuk rasa pun tidak dengan kekerasan tapi dengan logika, sehingga selalu memunculkan pemikiran yang kritis, inspiratif, inovatif, dan kreatif.

Seminar dilanjutkan dengan serangkaian workshop yang telah disiapkan oleh Kompas Saba Kampus. Workshop ini diisi oleh narasumber yang ahli di tiap bidangnya. Workshop  ini terbagi menjadi tujuh, yakni Menulis Jurnalistik, Fotografi Jurnalistik, Research and Development, Bussiness Development, Advertising, Marketing Communication, dan Desain Grafis.

Suasana di kelas Menulis Jurnalistik dihadiri sekitar 30 mahasiswa. Seminar ini menjadi menarik ketika Kepala Desk Politik Harian Kompas Sutta Dharmasaputra bercerita bagaimana Kompas menyajikan liputan pemilu. Terlihat interaksi yang sangat baik antara mahasiswa dan pembicara dengan adanya tanya-jawab dan sharing.

General Manager Marcomm Harian Kompas Fidelis Novan Terryan mengakui, dia sebenarnya tidak memiliki basic untuk mengajar, namun setidaknya dia bisa berbagi pengalamannya. “Yang utama adalah sharing. Ingin berbagi pengalaman,” tuturnya.

Sayangnya, tidak ada praktik langsung akan teori-teori yang dibagikan di tiap-tiap kelas. Padahal, jika teori-teori itu dapat diaplikasikan, maka kelas akan terasa lebih menarik. Hal ini dimaksudkan agar ilmu yang disampaikan oleh narasumber pun dapat langsung diterapkan oleh mahasiswa.

“Kalau tadi diselingi praktik menulis jurnalistik pasti seru banget,” tutur Aretyo Jevon, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2013 saat ditemui di Function Hall UMN setelah mengikuti kelas Menulis Jurnalistik. “Semoga ke depannya, workshop ini tidak hanya berbagi ilmu dan pengalaman, tapi kita juga bisa langsung mempraktikkan ilmu yang kita dapat. Jadi tidak sia-sia,” lanjutnya.

Setelah serangkaian workshop selesai, seminar pun dilanjutkan kembali. Sayangnya, tingkat kehadiran mahasiswa berkurang. Hal ini mungkin dikarenakan waktu kegiatan yang makin sore, sehingga banyak mahasiswa sudah pulang ke rumah. Namun demikian, Rene Suhardono hadir membawakan seminarnya secara berbeda. Sore yang makin sepi dan semangat mahasiswa yang makin menurun pun dibuatnya menjadi membara kembali. Dengan tema ‘Passion and Creativity in Career’, Rene membawakan seminarnya dengan suasana humoris, namun juga sangat inspiratif.

Gak nyesel deh ikut acara ini karena di samping dapat pengetahuannya, aku juga makin termotivasi lewat pengalaman-pengalaman yang narasumber ceritakan,” tutur Rendy Ramadhan, mahasiswa Jurnalistik 2012.

Hal ini memang sejalan dengan tujuan diadakannya Kompas Saba Kampus. Kompas ingin merangkul mahasiswa untuk makin mengenal Kompas. Tak hanya itu, Kompas juga sangat membuka diri bagi mereka yang ingin bergabung di dalamnya. Namun demikian, semua juga tergantung pada kita. Terlebih sebagai kaum muda, kita diajak untuk menolak golput dan ‘melek politik’. Salah satu penyair Jerman Bertolt Brecht mengatakan, “Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik.”

 

Tim Ultimagz-Kompas Saba-Universitas Multimedia Nusantara

3 thoughts on “‘Melek Politik’ Bersama Kompas Saba Kampus”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s