Komunikasi Antar Budaya di Film Sang Penari

ronggeng-dukuh-paruk-edisi-cover-film-sang-penari

Sutradara         : Ifa Isfansyah
Produser          : Shanty Harmayn
Penulis           : Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn
Novel             : Ahmad Tohari
Pemeran           : Prisia Nasution, Dewi Irawan, Oka Antara, Slamet Rahardjo, Landung Simatupang, Hendro Djarot, Happy Salma, Teuku Rifnu Wikana, Tio Pakusadewo, Lukman Sardi

Banyak hal yang dapat dikorelasikan antara film “Sang Penari” dan Komunikasi Antar Budaya. Melalui film yang disutradarai oleh Ifa Ifansyah ini, seakan-akan ingin memvisualisasikan sebuah gambaran kehidupan kelam bangsa Indonesia pasca tragedi 1965 khususnya di Desa Dukuh Paruk. Film yang terinspirasi dari trilogi novel ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ karya Ahmad Tohari ini ingin menunjukkan pula adanya perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan. Film ini mengisahkan ketidakadilan gender perempuan (kekerasan psikologi, fisik, pelacuran, pelecehan seksual dan kekerasan akibat kekuasaan dan kekuatan laki-laki). Hal ini khususnya dialami oleh Srintil sebagai ronggeng dari Dukuh Paruk.

Tentu hal ini sejalan dengan teori di dalam Komunikasi Antar Budaya bahwa prasangka terjadi ketika seseorang memiliki generalisasi terhadap sekelompok orang atau hal-hal, sering kali didasarkan pada sedikit atau tidak adanya pengalaman faktual. Di dalam film ini, perempuan seperti dihalalkan untuk melakukan persundalan serta perzinaan antar wagra Dukuh Paruk. Terbukti ada di bagian awal film, seorang suami atau istri yang mandul dapat berhubungan kelamin dengan ronggeng agar dapat memperoleh keturunan. Tidak ada yang dapat disalahkan karena mereka masih mempercayai hukum adat dan kepercayaan mereka. Inilah yang membuat mereka menolak kebudayaan baru yang masuk dapat memunculkan sikap etnosentrisme bagi kelompok tersebut.

Berbicara masalah budaya, tentu tidak terlepas dengan elemen budaya, yakni sejarah. Sejarah budaya adalah budaya yang disebarkan dari generasi ke generasi dan melestarikan pandangan suatu budaya. Cerita tentang masa lalu memberikan anggota dari suatu budaya dan menjadi bagian dari identitas, nilai, aturan tingkah laku, dan sebagainya. Hal itulah yang terjadi di desa Dukuh Paruk. Seorang ronggeng sudah menjadi sejarah budaya di desa tersebut. Ronggeng menjadi suatu budaya yang harus tetap dilestarikan dan sifatnya adalah turun-temurun. Begitulah yang terjadi ketika ronggeng pertama Dukuh Paruk meninggal karena keracunan tempe bongkrek buatan ayah Srintil. Srintil merasa untuk perlu melestarikan ronggeng tersebut sebagai penebusan dosa ayahnya terhadap warga Dukuh Paruk.

Sejak kecil Srintil sudah mulai melihat dan mempelajari bagaimana keindahan seorang ronggeng. Hal inilah yang membuat ia belajar dari budaya yang ada. Begitulah salah satu karakter penting dari budaya, yakni budaya itu perlu dipelajari. Seperti yang diteliti oleh Ferraro, “Anak yang lahir dalam suatu masyarakat menemukan masalah yang sudah pernah dialami oleh semua orang yang lahir sebelumnya.” Seiring dengan berpindahnya anak dari kata ke kata, kejadian ke kejadian, dan orang ke orang, mereka berusaha mengerti. Dari sinilah awal Srintil mulai mempelajari pola perilaku dan cara berpikir sampai “proses pembelajaran” dari seorang ronggeng sehingga terinternalisasi dan menjadi kebiasaan. Hal ini dikuatkan oleh pernyataan Hoebel dan Frost, “baik kondisi sadar amupun tidak sadar yang terjadi dalam proses tersebut, sebagai individu, anak atau orang dewasa, menerima kompetensi dalam budaya tertentu.”

Ronggeng Dukuh Paruk menjadi identitas regional bagi Dukuh Paruk itu sendiri. Penduduk daerah tersebut menggunakan ronggeng sebagai penunjuk identitas regional serta karakteristik dari daerah mereka. Daerah ini memiliki warisan sejarah yang kuat secara turun-temurun. Seakan-akan ronggeng ini menjadi nilai budaya yang menentukan apa yang layak diperjuangkan hingga mati, apa yang pantas untuk dilindungi, dan apa yang perlu dipelajari.

Ada sebuah tahapan di mana ronggeng menjadi sebuah perilaku yang patut dicontoh oleh Srintil.

Kepercayaan –> Nilai –> Sikap –> Perilaku

Di sini Srintil dipercaya untuk menjadi ronggeng oleh warga Dukuh Paruk. Hal ini dibarengi oleh keinginan Srintil yang mengembalikan nama baik keluarganya. Srintil juga ingin mengangkat nilai budaya yang sudah lama ditanamkan oleh warga Dukuh Paruk. Dari sinilah Srintil mulai dikenal dengan pribadi ronggeng yang tepat dan siap untuk menggantikan ronggeng yang sebelumnya. Semua hal itulah yang membuat sikap Srintil semakin bulat untuk menjadi ronggeng. Kendati Rasus tidak suka dan tidak menyetujui hal itu, namun Srintil tetap mengambil pilihannya. Perilaku Srintil pun menjadi berubah semenjak ia menjadi ronggeng. Ia makin diyakini memiliki indang atau roh ronggeng. Kemudian Srintil dibawa ke dukun ronggeng dan “dipoles” menjadi ronggeng yang sesungguhnya. Srintil yakin menjadi seorang ronggeng lebih terhormat daripada menjadi seorang perempuan biasa.

Budaya di Dukuh Paruk juga didasarkan melalui simbol. Hal ini terlihat melalui keris Ronggeng Surti. Keris itu diberikan oleh Rasus kepada Srintil karena Rasus melihat kebulatan tekad Srintil menjadi ronggeng. Walaupun demikian Rasus sendiri tidak mendukung Srintil untuk menjadi ronggeng. Filosofinya sederhana dan merupakan kecemburuan pacar yang tak mampu melawan kehendak Dukuh Paruk.

Kisah ronggeng Dukuh Paruk ini sangat terkait dengan orientasi nilai Kluckhohn dan Strodtbeck. Di mana budaya memiliki perilaku dan persepsi berbeda terhadap masa lalu, masa kini, dan masa depan. Terlihat para warga Dukuh Paruk dan Srintil memiliki orientasi masa lalu. Di mana budaya dan orientasi mereka menekankan pentingnya masa lalu, dan menggunakan apa yang telah terjadi sebelumnya sebagai dasar pemikiran mereka terhadap manusia dan suatu kejadian. Sosok ronggeng menjadi sosok yang diturun-temurunkan dan disahkan oleh Dukun ronggeng. Hal ini sama dengan apa yang telah dikatakan oleh Richmond, McCracken, dan Paye, “Budaya yang memiliki filosofi terorientasi pada masa lalu cenderung menggunakan masa lalu sama dengan situasi yang baru. Masyarakat ini menghormati orang yang lebih tua dan mendengarkan warga senior mengenai masa lalu.”

Pada intinya para warga Dukuh Paruk memang memiliki penghargaan terhadap sejarah dan menetapkan institusi sosial. Sayangnya, mereka terlalu tertutup dengan adanya budaya baru di luar bagai memakai kacamata kuda. Berbeda dengan pemikiran Rasus yang memiliki orientasi masa depan. Rasus lebih menekankan pada perubahan. Ia memanfaatkan kesempatan, penekanan pada masa lalu, dan optimisme adalah ciri-ciri budaya. Hal ini terbukti ketika ia sangat marah kepada Srintil yang harus menjadi rongggeng. Namun memang untuk merealisasikan pemikiran Rasus ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Orang yang memiliki orientasi masa lalu terlihat sangat kuat dalam menurunkan tradisinya dan orang yang memiliki orientasi masa depan kurang menghargai budaya atau tradisi serta kebiasaan di masa lalu. Hal ini sama halnya dengan yang diungkapkan oleh Adler.

Adanya unsur budaya maskulin dan feminim juga terlihat di film ini. Maskulin merujuk pada nilai dominan dalam suatu masyarakat dominan pada laki-laki. Adler melaporkan bahwa budaya maskulin memberikan arti dari peranan gender dan mempromosikan kesuksesan karier. “Ketegasan dan pemerolehan uang dan materi.” Ditekankan kadang menjadi lebih penting dibandingkan uang dan materi. Jadi memang terlihat semua menonjolkan materi untuk mendapatkan ronggeng, entah itu sudah bersuami atau belum. Karena memiliki kepercayaan kalau sudah bercinta dengan ronggeng, yang tadinya tidak bisa beranak akan bisa beranak.

Feminim juga mendukung kesetaraan gender dan menganggap bahwa manusia dan lingkungan itu penting. Hal ini terjadi ketika mereka lebih mementingkan untuk sosialisasi dan penurunan kebudayaan. Bukan hanya urusan dapur, kamar, dan sumur. Penggambaran tentang sosok Srintil juga terbilang sangat detail. Kewanitaannya dideskripsikan dengan sangat jelas, meliputi ciri-ciri, karakter, perasan sekaligus sifat yang menggambarkan diri seorang wanita yang memiliki banyak keunikan. Keinginan untuk dipuja, menjadi pusat perhatian, dicintai, mencintai, dihargai dan dilibatkan dalam setiap aspek kehidupan di film ini.

Di dalam film ini juga melingkup berbagai elemen kebudayaan yang ada, bahasa dan dialek, serta peribahasa. Bahasa yang digunakan di dalam film adalah bahasa Banyumas. Hal inilah yang patut diapresiasi karena terlihat sekali unsur ke-Indonesiaannya. Banyumas termasuk ke dalam bahasa Jawa. Namun bahasa Jawa ini memiliki kekhasan masing-masing di tiap tempat yang berbeda, seperti Jawa Timur, Banyumas, dan Yogyakarta. Dan kemungkinan juga memiliki arti yang berbeda. Itulah yang dinamakan dialek. Pemain utama Prisia Nasution sebagai Srintil dan Rasus yang bukan merupakan penduduk asli Banyumas dapat memerankan dengan menggunakan bahasa Jawa yang ngapak-ngapak dengan baik.

Budaya terbentuk karena adanya peribahasa ini juga terlihat ketika Srintil merasa bahwa meronggeng adalah takdir yang harus dijalaninya. Bagi orang Dukuh paruk ada peribahasa yang menjadi pedoman hidup, yaitu “Narimo Ing Pandhum” atau menerima apapun takdir yang diberikan oleh Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s