Belajar Hidup Dari Bola Basket

166628_1519932372514_4887072_nFoto 1: Tatapan Nikolaus Harbowo yang selalu haus akan bola basket saat di lapangan basket SMA Seminari Mertoyudan.

IMG_0060Foto 2: Nikolaus Harbowo sedang spin the ball di depan patung Monumen Bambu Runcing, Muntilan.

SONY DSCFoto 3: (ka-ki) Montanus Barep, Christoforus Gita Dananjaya, Nikolaus Harbowo saat bermain basket melawan SMA PL Van Lith Muntilan di lapangan basket SMA Seminari Mertoyudan.

60260_1382504576905_1660702327_2993553_2114579_nFoto 4: (ka-ki) Gerry Andrian, Nikolaus Harbowo, Yohanes Yuditya Harmandika, dan Arnlodus Andre sedang berpose di ruang kelas XI-IPA SMA Seminari Mertoyudan setelah lelah bermain basket.

68830_1418710642034_1660702327_3055953_7897075_nFoto 5: Nikolaus Harbowo sedang asik mencoba berbagai gaya streetball bersama Robertus Koekuh.

SONY DSCFoto 6: Nikolaus Harbowo sedang asik mencoba berbagai gaya streetball bersama Guido Caesar sebagai korbannya.

SONY DSCFoto 7: Nikolaus Harbowo berhasil memasukkan bola ke dalam kolong kaki Guido Caesar.

SONY DSCFoto 8: Nikolaus Harbowo sedang asik mencoba berbagai gaya streetball dan lagi-lagi bersama Guido Caesar sebagai korbannya.

streetballersFoto 9: Inilah saat di mana Nikolaus Harbowo berpose bersama Albertus Gatot, sang guru streetballnya. Saat ini dia sedang menjalani pendidikan sebagai seorang Frater Projo Bandung.

Aku mengenal bola basket bukan dari waktu yang singkat, tapi sejak aku berada di kelas 4 SD. Awalnya, aku tertarik karena aku melihat teman-temanku mengisi waktu jam istirahat mereka dengan bermain basket di lapangan sekolah. Aku melihat kebahagiaan tergores di wajah mereka. Mereka terlihat begitu menikmati permainan basket tersebut. Hal itulah yang seolah-olah memanggilku untuk ikut bergabung dengan mereka.

Keesokan harinya aku mulai mencari tahu ekstrakurikuler bola basket di sekolahku. Aku mulai mendaftar dan mengikuti segala prosedur latihan yang ada. Aku sangat menikmati permainan basket ini. Aku selalu merasa bahagia tiap selesai bermain basket. Sampai suatu ketika orang tuaku membelikanku bola basket. Betapa bahagianya diriku saat mendapatkan bola basket untuk pertama kalinya.

Kebahagiaanku makin terwujud ketika aku berada di kelas 5 SD. Aku memasuki tim inti basket putra. Saat itu aku pertama kalinya bersama tim basketku mewakili bertanding melawan sekolah lain. Sayangnya, aku bersama tim basketku kalah di pertandingan. Kita masih mementingkan ego kita masing-masing dalam bermain basket. Padahal di dalam bermain basket, kehebatan seseorang itu bukanlah segalanya. Hal yang terpenting adalah kerja sama yang baik dari sebuah tim untuk mencapai tujuan yang satu, yakni kemenangan.

Memasuki dunia SMP, aku dibelikan sepatu basket oleh orang tuaku untuk pertama kalinya. Betapa bahagianya diriku setelah sekian lama bermain basket menggunakan sepatu sekolah dan akhirnya saat itu mulai menggunakan sepatu basket. Konsekuensinya adalah aku harus tetap fokus dengan pelajaran di sekolah. Namun demikian, aku selalu memiliki pemikiran bahwa orang yang hebat dalam bermain basket itu tidak dilihat dari sepatunya, tapi dari kehebatan permainannya dengan latihan yang rutin.

Memasuki dunia SMA, aku tetap mencintai olahraga basket. Aku makin mengerti bahwa permainan basket yang aku lakukan selama ini adalah permainan basket kovensional. Semenjak aku mengenal Albertus Gatot, kakak kelasku saat di SMA Seminari Mertoyudan, aku mulai mencintai permainan streetball. Streetball adalah permainan basket yang lebih inovatif dan bebas dari aturan. Permainan basket ini lebih bertujuan untuk menghibur dan tidak terikat pada peraturan pada umumnya. Saat itulah aku makin mencintai olahraga penuh kebahagiaan ini.

Memasuki dunia perkuliahan, aku merasa jatuh cinta pada bola basket. Kendati banyak tugas dan cuaca ujan, aku selalu termotivasi untuk bermain basket. Suatu kali aku pernah sakit. Aku hanya memegang bola basket dan memainkannya di atas tempat tidur. Aku merasa bahagia dapat memegang bola basket. Sampai akhirnya, aku ketiduran dengan posisi memeluk bola basket. Aku tidak pernah merasa lelah untuk bermain basket. Hal ini mungkin dikarenakan kelelahanku itu telah tertutupi oleh rasa kebahagiaan.

Bermain basket adalah proses belajar; belajar untuk mengakui kehebatan lawan, belajar untuk mengubah kelemahan menjadi kekuatan, belajar untuk menghormati satu sama lain, belajar untuk mengenal pribadi satu sama lain, belajar untuk tidak bermalas-malas. Intinya, aku belajar untuk menjadi pribadi yang bekerja keras, bersosialisasi, dan tidak egois.

Betapa banyaknya pelajaran hidup yang telah aku dapatkan dengan bermain basket. Aku merasa bola basket sudah seperti racun di dalam hidupku. Jika aku tidak memainkannya, maka aku akan dibuatnya mati. Namun demikian, aku sangat senang karena dapat mengenali bola basket secara lebih jauh. Terima kasih bola basket.

One thought on “Belajar Hidup Dari Bola Basket”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s