Robbi: Belajar Hidup Dari Jalanan

Apa yang langsung terlintas di benak Anda ketika mendengar kata ‘jalanan’? Panas, macet, capek, pengemis, pengamen jalanan, dan masih banyak lagi. Seperti yang Anda ketahui, hampir semua menunjukkan hal-hal yang sifatnya negatif. Tanpa disadari, sesungguhnya kita telah melewatkan banyak arti kehidupan dari jalanan, seperti perjuangan dari anak-anak jalanan yang mencari makan dan bertahan hidup.

Menjalani kehidupan di kota besar memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kerasnya kehidupan di kota besar telah menempa anak-anak jalanan menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah. Ironisnya, masih banyak pribadi yang meremehkan pentingnya arti kehidupan dari anak-anak jalanan. Ketika kita merasa tidak mendapatkan apa-apa dari hadirnya mereka, sesungguhnya mereka juga membutuhkan penghargaan hidup dari kita.

Hal ini dirasakan oleh Robbi, seorang anak jalanan dari Serang, Banten. Siapa sangka ternyata banyak refleksi kehidupan yang didapatkan oleh anak yang masih berumur 14 tahun tersebut? Robbi sempat terhenti mimpinya ketika ia ingin memasuki dunia sekolah dasar. Ia tidak melanjutkan pendidikannya karena faktor ekonomi keluarganya yang tidak mencukupi. Saat itulah Robbi dan ayahnya mulai memutuskan untuk mengadu nasib ke Kota Tangerang.

Sesampainya di Tangerang, Robbi merasa buta akan segala hal yang dilihatnya. Robbi dan ayahnya mulai mencari kehidupan di jalanan dengan mengamen dan mengemis. Seiring berjalannya waktu, Robbi merasa terbekati karena dipertemukan oleh Komunitas Keluarga Anak Langit. Komunitas yang berada di pinggiran Sungai Cisadane, di Jalan Tanah Gocap, Tangerang ini telah menunjukkan betapa pentingnya arti kehidupan kepada Robbi.

Keceriaan tergambar jelas di wajah Robbi ketika ia sudah mulai menjalani pendidikan di komunitas tersebut. Ternyata, Komunitas Keluarga Anak Langit baru berdiri tepat saat Robbi mulai masuk sebagai anak jalanan pertama di komunitas tersebut, yakni pada tahun 2004. Robbi mulai dididik oleh para aktivis dan sukarelawan di komunitas tersebut menjadi pribadi yang berkualitas. Saat itu Robbi masih berusia 6 tahun.

Ayah Robbi tentu sangat senang dengan hadirnya komunitas tersebut sehingga tidak harus bersusah payah membayar pendidikan yang kian melonjak tinggi saat ini. Komunitas Keluarga Anak Langit ini telah sangat membantu mimpi anak laki-laki semata wayangnya. Hal ini sesuai dengan asal nama dari komunitas tersebut, yakni berasal dari dua kata Arab “Ana” dan Klangit”. Ana berarti saya. Klangit berarti keluarga yang membangun cita-cita. Dari sinilah komunitas ini berharap dapat membangun sebuah semangat baru bagi anak-anak jalanan demi mencapai cita-cita mereka di tengah segala keterbatasan yang ada.

Robbi merasa mendapatkan banyak pelajaran hidup selama menjalani pendidikan di Komunitas Keluarga Anak Langit. Kendati ia tidak langsung mendapatkan pendidikan formal, ia telah mendapatkan pendidikan agama dan pendidikan non formal, seperti keterampilan bertani, bercocok tanam, berternak, dan mengubah sampah menjadi berkah bersama para sukarelawan di komunitas tersebut. Robbi juga merasa bangga ketika ia sudah dapat berbahasa Indonesia dengan baik. Maklum, Robbi awalnya masih menggunakan bahasa Serang dan sulit untuk berbahasa Indonesia.

Saat ini Robbi berhasil mengenyam pendidikan sampai di bangku kelas VIII di SMP PGRI 1 Tangerang. Ia mulai mengenyam pendidikan formal layaknya anak pada umumnya. Kendati ia memiliki masalah dalam hitung-menghitung, namun ia yakin dapat mengatasi hal tersebut jika dibarengi dengan niat belajar yang tinggi. Dari situlah Robbi mulai menggali mimpinya kembali yang lama telah terpendam, yakni menjadi seorang dokter.

Komunitas Keluarga Anak Langit sungguh telah hadir sebagai bentuk tindakan nyata untuk memberikan bantuan di bidang pendidikan, khusunya pada anak-anak jalanan. Bagi mereka sang penggagas komunitas tersebut berpikir, tak ada halangan untuk tetap bisa belajar dan menggapai cita-cita! Hadirnya Komunitas Keluarga Anak Langit ingin membuktikan bahwa anak jalanan juga dapat berkarya. Komunitas ini ingin menjadi wadah bagi anak-anak jalanan untuk mengembangkan kemampuan positif yang mereka miliki.

Hal ini diharapkan dapat meruntuhkan persepsi masyarakat tentang anak jalanan yang terkesan dekat dengan kriminalitas dan kenakalan remaja. Untuk itu, jika Anda belum ingin ‘menyentuh’ anak-anak jalanan secara lebih dekat, cobalah untuk tidak menaruh pemikiran negatif terlebih dahulu kepada mereka. Saat itulah kalian akan tahu, betapa tinggi dan mulianya mimpi mereka di kehidupan ini.

Sebenarnya, ada banyak inspirasi kehidupan yang kerap kita anggap kecil, tetapi memiliki arti yang begitu besar, seperti pada anak-anak jalanan. Ketika kalian bertanya-tanya, mengapa mereka dapat melakukan itu semua? Cobalah untuk mengembalikan pertanyaan itu kepada diri kalian masing-masing. Kita dapat belajar dari semangat, kegigihan, dan kehidupan mereka di dalam menghadapi kerasnya hidup ini.

Non scholae sed vitae discimus. Kita belajar bukan untuk sekolah tetapi untuk hidup. Dari sinilah kita diajak untuk tidak hanya mengincar nilai akademik semata melalui pendidikan formal, tetapi juga belajar untuk hidup. Pandangan kita masih kerap terkaburkan oleh kesombongan dari dalam diri kita masing-masing. Saat itulah kita telah melewatkan sebuah arti penting dari refleksi kehidupan yang panjang di dalam kehidupan seorang manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna. Ad maiorem Dei gloriam.

Creative Writing Competition – Street Bible – FISIPERS UI

Nikolaus Harbowo (Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi / Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara)

IMG_1493

Foto 1: Nikolaus Harbowo sedang berpose di depan rumah di mana anak-anak dari Komunitas Anak Langit belajar.

IMG_1494

Foto 2: Nikolaus Harbowo sedang berpose di perahu bambu hasil karya anak-anak dari Komunitas Anak Langit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s