Quo Vadis Gamelan?

IMG_6981

Foto: Nikolaus Harbowo sedang foto bersama Mas Djaduk Ferianto setelah selesai wawancara terkait dampak perkembangan musik di dunia saat ini terhadap alat musik gamelan di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Selasa (12/11).

JAKARTA (12/11) – Berbicara tentang musik tentu tidak hanya berkutat di Indonesia saja, tetapi di seluruh dunia. Sama halnya dengan perkembangan musik. Kita tidak dapat hanya semata-mata melihat perkembangan dari musiknya saja, tetapi juga perkembangan yang lainnya, seperti budaya, gadget, dan lain-lain.

Dewasa ini banyak musik, film, dan fashion di Indonesia hanya berorientasi pada kepentingan industri, bukan pada seni dan aspeknya. Mereka tidak pernah memikirkan akan musiknya, tapi bagaimana yang terpenting musik mereka dapat sampai pada masyarakat. “Orang-orang yang seperti itulah orang-orang yang masih berpikir hanya masalah selera,” tutur Djaduk Ferianto yang dikenal sebagai aktor dan pemusik di Indonesia.

Perkembangan musik di dunia memunculkan adanya kebudayan pop atau biasa dikenal dengan pop culture. Hal ini sudah mewakili pola industri musik. Tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di luar negeri. Banyak orang-orang Indonesia menanggap bahwa budaya pop bukanlah bagian dari produk kebudayaan. Nyatanya, saat ini budaya pop sudah menjadi bagian yang tak terlepas dalam kebudayaan masyarakat. “Bahkan kebudayaan itu sudah menjadi bagian dari kapital,” tutur pria kelahiran Jogjakarta, 19 Juli 1964.

Hal ini tentu mempunyai pengaruh terhadap alat musik tradisional. Namun demikian, banyak orang memiliki persepsi yang berbeda-beda terkait perkembangan kebudayaan itu sendiri. “Itu bagian dari resiko kebudayaan. Selalu berkembang, ada yang merawat dan ada mengembangkan. Kalau berbicara masalah umum, pasti ada yang hilang dan ada yang baru. Itu resiko! Jangan disesali!” ujar anak dari ayah Bagong Kussudiardja dan Ibu Soetiana ini.

Dunia musik akan terus berkembang. Semua tergantung bagaimana cara seseorang memandang masalah perkembangan musik di dunia saat ini. Ironisnya, terkadang masih banyak orang salah dalam cara memandangnya. “Seharusnya ketika ada orang yang ingin mengembangkan alat musik tradisional, ya kita hormati pilihan itu. Tapi kalau tidak bisa, ya hilang tidak apa-apa. Karena sekarang sudah ada yang lebih efisien,” tegas pria yang kerap disapa Mas Djaduk ini.

Pada dasarnya, musik gamelan sangat dapat mempengaruhi musik lain. Begitu juga sebaliknya. Keterbukaan kebudayaan dalam bermusik memang menjadi suatu hal yang sangat menarik. “Gamelan itu di dalamnya ada kehidupan, sama seperti manusia. Sama halnya dengan budaya yang tidak ada sekat-sekat. Yang ada sekat-sekat itu karena wacananya kurang luas, seakan-akan katak dalam tempurung. Padahal di dalamnya ada banyak hal yang bisa diambil,” tutur Mas Djaduk serius. Hal itulah yang membuat musik gamelan bisa diterima di dalam musik lain. Musik gamelan tidak hanya sekadar instrumen, tapi ada ruang sosial, ekonomi, dan politik di dalamnya. “Tapi bagi orang yang tidak memahami hal itu, ya mereka pasti ngomong kalau gamelan hanya masalah bentuk bendanya saja. Dan itu sangat disayangkan. Tidak banyak orang yang memahami bahwa gamelan memiliki ruang kehidupan di dalamnya,” lanjutnya.

Mas Djaduk mempunyai alasan mengapa banyak orang tidak ingin belajar gamelan. “Ya karena goblok! Kita banyak ketinggalan dengan negara-negara tetangga, seperti Malaysia, Singapore. Orang Indonesia kan goblok! Kita kan goblok! Karena goblok kita harus belajar!” tegas Mas Djaduk. Mas Djaduk berpikir bahwa, kita sebagai manusia tidak pernah ingin jujur kalau dirinya bodoh. Padahal kalau kita jujur bahwa diri kita bodoh, itu akan memotivasi kita untuk mengejar kekurangan kita. “Itu kan kesadaran manusia menutupi kejelekan manusia. Merasa dirinya paling pandai,” tutur Mas Djaduk.

Namun demikian, Mas Djaduk yakin bahwa gamelan akan terus berkembang karena selalu ada pribadi yang melestarikan. “Tidak hanya eksternal dari gamelan yang terus berkembang, namun juga internalnya,” tutur Mas Djaduk yakin. Memang gamelan masih belum begitu kuat diterima di kalangan masyarakat. Tetapi, lembaga-lembaga pendidikan dan seniman sudah mencoba melakukan hal itu walaupun belum maksimal atau sampai dalam. “Tapi usahanya kita hormati. Tinggal bagaimana anak-anak mau mencoba atau tidak. Ya mungkin mau, tapi malu-malu,” lanjutnya.

Sebaiknya, janganlah melarang ketika ada anak muda yang ingin menggunakan gamelan dengan caranya sendiri. Biarkan mereka berekspresi dengan gamelan. “Mainlah seseneng mungkin. Gunakan instrumen gamelan menurut anda paling enjoy dan happy, itulah nanti lama-lama mereka memperlakukan gamelan sebagai sumber bunyi. Anda akan mengeksplorasi dan mau belajar di sana. Daripada mereka pertama-tama sudah males. Jangan takut untuk mau mencoba!” pesan Mas Djaduk seraya menutup perbincangannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s