Ketika Diam Tidak Selalu Emas

images

Judul              : Adam Harus Bicara: Sebuah Buku Lelaki
Penulis            : Deshi Ramadhani, SJ
Penerbit           : Kanisius Yogyakarta
ISBN               : 978-979-21-2897-0
Halaman            : 304
Tahun terbit       : 2010

Apakah manusia sebagai lelaki telah memahami siapa sebenarnya dirinya sebagai lelaki sejati? Apakah manusia sebagai lelaki pernah merefleksikan apa maksud dan tujuan Allah menciptakan lelaki di dunia ini? Apakah manusia sebagai lelaki pernah memikirkan akan arti dari panggilan lelaki dalam hidup ini, entah sebagai seorang suami, saudara, ayah, bahkan selibat?

Bertolak dari pertanyaan-pertanyaan itulah Dr. Deshi Ramadhani, SJ akan menjawab segala kerinduan terdalam dari gender lelaki. “Menjadi lelaki yang baik bukan berarti menjadi lelaki yang manis.” Melalui kutipan tersebut, penulis yang akrab di sapa dengan Romo Deshi ini akan menunjukkan eksistensi dari lelaki dalam berbagai panggilan hidup yang ada di dunia. Seharusnya, lelaki memiliki api dan auman keras yang menggelegar. Namun sayangnya, banyak lelaki masih terlihat pasif dan patuh pada perempuan.

Buku yang terdiri dari 12 bab ini hadir ingin mengidentifikasi, “Siapakah lelaki itu?” Di setiap babnya selalu dimulai dengan kutipan baik dari Alkitab, maupun kalimat-kalimat inspiratif. Hal ini dimaksudkan agar pembaca dapat makin terinspirasi dan siap sebelum memasuki bab selanjutnya. Di dalam buku ini, Romo Deshi mengajak para pembaca untuk menyusuri sejarah munculnya lelaki (menurut Alkitab), perkembangan seorang anak lelaki menjadi lelaki dewasa, peran-peran yang dijalani lelaki dewasa sampai tua, dan diakhiri dengan Yesus sebagai lelaki sejati.

Ada pepatah mengatakan, “Diam itu emas.” Kalimat ini mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita. Banyak orang berpikir, ketika seseorang diam, maka dia akan mendapatkan jalan keluar yang lebih baik daripada berbicara yang tidak memberikan manfaat apa-apa. Ternyata hal ini tidak sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Romo Deshi di dalam bukunya yang berjudul “Adam Harus Bicara” ini. Di dalam situasi tertentu, berdiam diri mungkin memang menjadi hal yg terbaik untuk dilakukan. Namun, seorang teolog Yesuit lulusan Universitas Gregoriana ini, telah menawarkan suatu konsep berpikir baru melalui pemikiran dan pemaparannya atas asal-mula kejatuhan manusia ke dalam dosa. Romo Deshi mengatakan bahwa, “Diam itu tidak selalu emas.”

Penulis buku ‘Menguak Injil-Injil Rahasia’ dan ‘Lihatlah Tubuhku: Membebaskan Seks bersama Yohanes Paulus II’ ini ingin membuka mata para lelaki akan eksistensi dari kelaki-lakiannya. Di dalam bukunya ini, ia memberikan penglihatan yang segar pada lelaki tentang bagaimana Allah merancang dan memberikan arti seorang lelaki sejati sejak awal penciptaan-Nya. “Adam bukanlah gambaran lelaki ideal”. Mengapa Romo Deshi mengatakan hal demikian? Kembali ke kisah penciptaan, diceritakan bahwa dosa muncul ketika manusia (Adam dan Hawa) memakan buah pengetahuan yang dilarang oleh Allah. Kita mungkin berpikir bahwa saat itu yang bersalah adalah perempuan (Hawa). Hawa tergoda oleh bujukan ular dan memakan buah terlarang tersebut. Ironisnya, buah tersebut juga diberikan pada Adam.

Dari sinilah Romo Deshi mengkritisi bahwa penyebab itu semua adalah tindakan Adam yang terlalu pasif dan membiarkan perbuatan Hawa tersebut. Saat itu juga dikisahkan bahwa Adam menyalahkan Hawa karena telah menyebabkan dirinya memakan buah itu. Dengan kata lain, Adam adalah lelaki yang pengecut. Adam adalah lelaki yang gagal. Ia gagal menyelamatkan perempuan dari kejatuhan dosa dan pengambilan keputusan.

Buku ini mencoba menyadarkan lelaki pada sebuah identitas lelaki. Identitas lelaki yang tidak hanya terletak pada jasmaniah, namun juga spiritual. “Kepada kita para lelaki, sebenarnya dipercayakan sebuah misi besar untuk menyadarkan sesama lelaki tentang hal ini. Untuk itu, kita perlu terlebih dulu memeluk erat identitas kita sebagai lelaki spiritual. Lelaki yang terus berkontak dengan Tuhan (hal: 277-278).”

Buku ini membawa pembaca pada sebuah kesimpulan akhir bahwa Yesus adalah teladan lelaki yang benar. Semasa hidup-Nya, Yesus telah menapaki secara tuntas panggilan dan hidup-Nya sebagai lelaki sejati. Sekarang pilihan ada di tangan kita. ‘Kita akan lebih memilih untuk berani angkat bicara ketika seharusnya kita disituasikan pada pilihan yang membutuhkan jawaban dari ketegasan seorang lelaki sejati? Atau kita hanya memilih untuk diam?’ Hal ini bukan ditujukkan agar dilihat sebagai penindasan atau ingin dihargai. Namun agar lelaki dapat memancarkan identitas dari seorang lelaki sejati sebagaimana maksud dan tujuan awal penciptaan Allah.

http://ultimagz-online.com/index.php/cartikel/view/690

Nikolaus Harbowo (joeblobo@yahoo.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s