Belajar dari Hidup

Perkenalkan, namaku Nikolaus Harbowo. Aku adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Kami semua adalah anak laki-laki dan kami bangga akan ketidakberagaman gender tersebut. Aku dilahirkan dari sepasang suami-istri yang bertempat tinggal di sebuah desa kecil di Klaten. Hal inilah yang membuat keluarga kami terkadang masih ada penggunaan bahasa Jawa di dalam kesehariannya.

Sebagai orang Jawa, aku merasa hal itu sangat mempengaruhi kepribadianku terutama dalam bersikap. Aku menjadi pribadi yang lebih menghargai orang yang lebih tua dan baru kukenal. Murah senyum juga menjadi salah satu khas dari dalam diriku. Namun sayangnya, aku merasa ada kepribadian kurang baik dalam diriku. Aku terlalu sungkan untuk menolak sesuatu apalagi jika sudah menyangkut masalah pertemanan. Jadi ketika ada teman yang meminta tolong, aku pasti langsung menyanggupinya dengan senang hati. Padahal saat itu aku pun juga sedang membutuhkan pertolongan. Aku kurang tegas dalam pertemanan.

Dalam bahasa Jawa, anak bungsu kerap disebut dengan ‘anak bontot’. Sebagai anak bontot kadang aku merasa sangat diuntungkan. Banyak orang bilang, anak bontot selalu diberi kasih sayang dan perhatian yang lebih dari orang tuanya. Dan itu terjadi padaku. Namun, hal itu tidak aku rasakan dalam jangka waktu yang lama setelah aku sadar bahwa kedua orang tuaku selalu bekerja di kantor sampai larut malam.

Sejak memasuki dunia SD, aku sudah dititipkan oleh pembantu di rumah, bahkan ke tetanggaku. Ironis memang, tapi memang demikian yang terjadi. Keadaan yang demikian membuatku merasa sendiri dan hilang arah, serta tujuan. Pemikiran yang masih sangat sempit dan situasi diri yang masih sangat kecil membuatku mudah terjatuh pada hal-hal yang kurang baik. Aku mulai terjatuh dalam budaya hidup anak muda Jakarta yang salah. Saat itu aku sudah mulai dijejali rokok, berbicara kasar, dan banyak hal buruk lainnya lagi. Hal itu tentu memberikan dampak yang tidak baik untuk perkembangan pola pikir dan kehidupanku ke depannya. Namun, siapa yang dapat menahan?

Kesendirian dan keterpurukkan kepribadiku semakin bertambah setelah aku tahu bahwa aku akan disekolahkan di Muntilan, Jawa Tengah. Setelah lulus dari SD, aku langsung disekolahkan di SMP Marganingsih Muntilah dan berasrama. Lagi-lagi aku jauh dari kasih sayang orang tua. Namun aku tetap dapat mengambil nilai positif dari hal itu. Ternyata banyak hal yang aku dapatkan dengan hidup merantau seperti ini. Aku makin memiliki banyak teman yang beragam, belajar berbahasa, dan yang paling penting adalah pengalaman hidup.

Sejak saat SMP itulah aku mulai diberi nama ‘paraban’ untuk pertama kalinya. Nama paraban ini adalah sebuah panggilan akrab. Biasanya nama paraban ini diberikan kepada seseorang karena dia sudah makin dikenal oleh orang di sekitarnya. Sayangnya, memang tidak semua nama paraban disetujui oleh orang yang bersangkutan. Hal ini dikarenakan terkadang nama paraban dijadikan ajang untuk saling mengejek antara satu dengan yang lain dan berujung pada emosi yang tak terkendali.

Nama paraban untuk diriku, aku dapatkan dari adik kelas. ‘Ocol’. Mengapa ‘Ocol’? Ternyata setelah aku telusuri, adik kelasku itu melihatku adalah pribadi yang ‘ngocol’ (read: songong, belagu). Oleh karena itu, dia menggunakan kata ‘Ocol’ untuk memanggilku. Dari sinilah mulai banyak pribadi memanggilku dengan sebutan itu. Awalnya sempat kaget dan marah. Namun karena makin banyak orang tahu akhirnya aku pun pasrah. Inilah yang dinamakan konsep diri terbentuk dari pandangan orang lain. Saat orang lain memandangku sebagai pribadi yang songong dan belagu, maka konsep diri seperti itulah yang timbul dalam benak mereka terhadap diriku. Aku tidak dapat menyalahkan mereka karena itu memang terbentuk karena sikap dan kepribadianku.

Seiring berjalannya waktu, aku sadar bahwa waktu dan keadaan tempatku berkembang dapat mempengaruhi karakter dalam diriku. Aku merasa bahwa aku menjadi pribadi yang mudah marah jika ada suatu hal yang tidak sesuai dengan apa yang ada dalam pikiranku. Aku ingin semuanya terlihat perfect. Hal inilah yang terkadang membuatku masih terbawa ego yang berlebihan.

Memasuki dunia SMA, aku merasa mendapatkan banyak perubahan, baik secara pola pikir, kepribadian, dan rohani tentunya. Aku melanjutkan pendidikan di SMA Seminari Mertoyudan. Di tempat itulah, kepribadianku mulai dibentuk menjadi pribadi yang lebih unggul dan multidimensional dalam segala hal. Aku mulai dapat menemukan ‘siapa diriku sebenarnya?’.

Gaya hidupku yang dulunya selalu menuntut untuk hidup berkecukupan, akhirnya aku sadar bahwa itu harus ditinggalkan. Aku belajar nilai kesederhanaan dan rendah hati. Aku belajar bahwa tidak semua dapat ditakarkan pada kebahagiaan materialistik. Di SMA Seminari ini aku juga mulai menemukan bakat minatku dan mengolah itu semua. Aku mempunyai minat dalam membaca dan menulis. Aku selalu merasa puas dan bahagia jika dapat menyelesaikan sebuah tulisan atau sebuah bacaan. Awalnya aku merasa bosan, namun akhirnya aku menemukan banyak nilai di sana. Hal inilah yang membuatku merasa bahwa segala sesuatunya butuh proses.

Dari sinilah aku belajar dan mempunyai kalimat penyemangat, “Non scholae sed vitae discimus”. Sebuah kalimat latin yang berarti, “Kamu belajar tidak untuk sekolah, tapi untuk nilai-nilai kehidupan”. Aku tidak dapat semata-mata sekolah tinggi-tinggi hanya untuk mencari nilai akademik semata, namun yang terpenting adalah nilai-nilai kehidupan. Nilai kehidupan yang akan lebih tinggi nilainya dan sangat berguna bagi kehidupanku kelak. Aku tersadar bahwa ada banyak hal dalam hidup ini yang aku lewatkan dan masih harus aku cari. Ad Maiorem Dei Gloriam. #blessed

8 thoughts on “Belajar dari Hidup”

  1. wo, gua numpang kopi paragraf terakhir lo yaaa hahahaha, mnyentuh hati gua coyyy wkwkwk

      1. ok… sehat2 ja kn lu skrg???
        makin baik ja omongan lu met2 wkwkwkwkwk……
        ga kyk dlu pas d asrama hahaha

  2. tangerang lu sbelah mana????
    klo sempat gua mampir lha
    hahaha iya lha, mnjadi lbih baik dr hari k hari

  3. wahh..anknya bude pak de,sodaranya adit dan yunanta punya talenta menulis yah..puji Tuhan,di kmbgkan trs deh,slamat brkarya..tentunya stiap org akn mngalami stiap prubahan,tp hrs di pstikan prubahan itu ke arah yg positif..smgat trs ya Nikolaus Harbowo🙂

    1. Yapp, bener banget. Pada intinya adalah bagaimana kita mau belajar serta terus mencari, mencari, dan mencari hal positif apa yg bisa kita kembangkan dlm diri kita dan maksud Tuhan atas diri kita. Terima kasih banyak Juliaa karena telah membaca kehidupan dan tulisanku. Terima kasih jg atas apresiasinya😀 Sukses juga yaa dalam setiap usaha dan karyamu! Tuhan memberkati😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s