Electio[1]

Seorang lelaki berlari. Dia seperti dikejar oleh waktu. Bayang-bayangnya menembus di batas senja. Kendati demikian, perasaannya terlihat sangat bahagia. Senyumnya bertebaran kemana-mana. Dia terlihat menari di kota yang penuh harapan itu. Kota Magelang. Dia terlihat bahagia mengenyam pendidikan di sana. Seminari. Sebuah tempat pendidikan calon pastor dan berasrama. Walaupun terkadang hati kecilnya bergejolak. Bergejolak karena terus mencari arti dari sebuah panggilan Tuhan dalam dirinya.

Di dalam kesenangannya, ia terlihat menyimpan rasa gelisah. Lebih tepatnya adalah rasa takut. Matanya membelalak melihat keadaan sekitar. Langkahnya begitu kecil seperti maling. Tidak ingin ada seorang pun yang mengetahui kedatangannya. Tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menepuk pundaknya. Dia tersontak kaget.

“Hayoo Robert, kau abis dari mana?”

“Eh Edo. Hehehe, aku tadi abis beli makanan. Dan mengantri. Jadi telat deh,” jawab Robert sambil tersenyum kecil.

Edo mengerti bahwa Robert sedang berusaha membohonginya. Robert ternyata telah melewati waktu ambulati[2]yang sudah ditentukan. Seharusnya, ambulati sudah selesai pada pukul 16.00. Tapi dia baru kembali ke seminari pada pukul 17.00.

“Ahh, bohong kamu. Aku tadi melihat kamu sedang makan bersama Niken di Rumah Makan Ayam Goreng Bu Slamet, iyaa kan?” ceplos Edo dengan nada menyindir. Dengan sigap Robert menutup mulut Edo dengan tangannya. Mata Robert melihat kanan kiri. Dia takut ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.

Niken adalah seorang siswi dari SMA Van Lith. Sekolah favorit yang letaknya tidak jauh dari seminari. Teman-teman Robert sudah mengetahui kedekatan hubungan antara Robert dan Niken. Ternyata sebelumnya Robert juga pernah mengenalkan Niken kepada teman-temannya. Jelas saja Edo sudah mengenali bagaimana sosok wajah Niken.

“Hahaha Robert….Robert,” tutur Edo sambil menggelengkan kepalanya.

“Ooo iya, tadi kamu dicari Romo[3] Tanto lho,” lanjut Edo serius.

Kalimat terakhir Edo itu seakan-akan menghentak hati Robert. Hati Robert mulai bertanya-tanya. Apakah Romo Tanto mengetahui antara hubungannya dengan Niken? Mendengar hal itu, Robert pun cepat-cepat pamit pergi.

“Baik, terima kasih Edo atas infonya. Aku masuk kamar dulu yaa. Aku ingin istirahat sejenak,” tutur Robert menutup percakapan mereka. Robert pun pergi dengan melambaikan tangannya kepada Edo. Edo membalasnya.

Romo Tanto adalah pastor pembimbing kehidupan Robert selama di seminari. Apapun yang Robert rasakan selalu diceritakan kepadanya. Masalah keluarga, hidup dan panggilannya. Tapi sejak awal Robert memasuki kelas XI, Romo Tanto sudah merasa ada yang salah dalam diri Robert. Robert menjadi pribadi yang tidak pernah terbuka. Robert tidak pernah menceritakan pergulatan dalam panggilannya. Robert terlalu mengabaikan hal penting itu.

Robert sebenarnya tidak langsung tidur sesampainya di tempat tidur. Dia masih bertanya-tanya. Mengapa Romo Tanto mencarinya? Kebahagiaan karena bertemu Niken, tiba-tiba saja hilang. Perasaan takut mulai menyelimutinya.

Robert dan Niken sebenarnya sudah lama menjalin hubungan ini. Bukan sebagai pacar, melainkan teman dekat. Tapi banyak pribadi menganggap mereka sudah berpacaran. Bagaimana tidak, sudah hampir setahun mereka bersama. Sejak suatu acara besar di sekolah Robert. Niken sangat bahagia dapat mengenal Robert. Robert dikenalnya sebagai pribadi yang suka menghibur. Robert kerap mengeluarkan kata-kata yang menyentuh hati Niken. Demikian juga Robert. Robert sangat bahagia mengenal pribadi Niken yang cerdas, baik hati, dan humoris. Apalagi kecantikannya telah menyita perhatian Robert sejak awal mata mereka bertemu.

Mereka kerap meluangkan waktu untuk bertemu dan berkomunikasi menggunakan telepon. Mereka saling menyemangati dalam hal belajar. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam cinta mereka. Hanya saja memang penempatan Robert sebagai seorang calon pastor yang tidak pas. Niken sadar akan hal itu. Hal itulah yang membuat Niken sesekali waktu pernah membahas mengenai kelanjutan dari cinta mereka.

“Sudah lama kita berjalan seperti ini, dan aku menginginkan adanya kejelasan, bert.”

“Kamu tau sendiri bagaimana statusku sekarang. Aku belum bisa memberikan kepastian, ken.”

“Sampai kapan?”

“Sampai waktu dapat menjawab semuanya. Semua akan indah pada waktunya. Percaya padaku,” tutur Robert halus. Robert memegang tangan Niken dengan sentuhan hangat dan cinta yang dalam. Tatapan Robert begitu pasti. Berusaha meyakinkan Niken. Meyakinkan perasaan cinta yang tumbuh secara diam-diam namun pasti di dalam hati mereka.

Dari situlah semua berawal. Robert terkadang bertanya dalam hati. Mungkinkah ini yang namanya kuasa Tuhan? Yang seringkali terlupakan oleh manusia. Tapi, mengapa saat dia menjalani panggilan ini, ya Tuhan? Robert tak berdaya. Semua yang dirasakan itu langsung dari lubuk jiwa. Robert terus mencari. Robert pun terus menanti. Apakah ini yang Robert cari? Niken? Robert tak kuasa menahan rasa kesal dalam dirinya sendiri. Dia terbangun dari tidurnya.

Hari terus bergulir begitu cepatnya. Robert tersadar kalau akhir-akhir ini hidupnya makin tidak terarah. Hidupnya menjadi tidak teratur. Banyak kegiatan tidak ia ikuti. Alasannya, karena ia lebih memilih pergi keluar untuk dapat berjalan-jalan dengan Niken. Kebahagiaan yang dialami oleh Robert hanyalah kebahagiaan sesaat. Semua hal yang ia lakukan sepertinya hanya untuk Niken seorang. Refleksi yang seharusnya dikumpulkan setiap harinya, tidak pernah ia lakukan. Sehingga kehidupan panggilannya sebagai seorang calon pastor pun mulai luntur. Dilakukannya semua kegiatan tanpa arti dan makna.

Gejolak cinta membuat dia melupakan segalanya. Robert pasrah tak berontak. Robert tak berdaya Mungkinkah ini yang namanya gejolak cinta? Yang sedang buramkan dunia nyatanya. Robert terdiam.

13 Juni 2010

Tanggalan sudah menginjak di akhir bulan ajaran 2010/2011. Di akhir ajaran layaknya hari ini, sekolah Robert mempunyai peraturan. Jika ingin naik ke kelas XII, siswa tersebut harus melanjutkan panggilan menjadi seorang frater. Di luar itu, siswa tersebut terpaksa harus melanjutkan pendidikan di luar seminari. Pilihan yang berat. Para siswa dihadapkan pada situasi electio. Di mana mereka harus dapat memilih pilihan yang terbaik dari antara yang terbaik. Untuk sampai pada situasi itu, mereka diberi waktu selama dua hari untuk bermenung dan berefleksi.

Di malam hari pertama. Malam penuh kesunyian. Semua siswa terlihat begitu sibuk bergelut dengan dirinya sendiri. Ada yang menangis. Ada pula yang dengan kusuknya berdoa. Berbeda dengan apa yang dialami oleh Robert. Robert dipanggil oleh Romo Tanto di ruangannya. Pastor hanya ingin membantu Robert dalam menemukan tujuan hidupnya. Tujuan hidup yang telah lama hilang.

Terlihat Robert sedang tertunduk. Dia sedang menahan rasa tangis yang hebat di dalam hatinya. Sebenarnya rasa itu sudah ia tahan daritadi. Namun entah mengapa, rasa itu tertahan di hadapan Romo Tanto.

“Ini sudah hari penantian terakhir dalam hidupmu, Robert. Semua keputusan ada di tanganmu. Peganglah komitmen yang sudah kamu miliki dari awal kamu memasuki seminari,” tutur Romo Tanto hangat.

Saat itu Robert mengalami konflik yang begitu hebat dengan dirinya sendiri. Dia memiliki kebimbangan yang begitu besar. Dia bimbang untuk memutuskan menjadi awam atau kaum selibater. Saat itu, bayangan wajah Niken selalu muncul di dalam benaknya.

“Robert, kamu tidak bisa begini terus. Kamu tidak bisa terus dibayang-bayangi oleh rasa takut dan kebimbanganmu. Kamu harus bisa memutuskan sebuah pilihan sebelum semuanya terasa sia-sia dan terlambat. Ingatlah semua hal yang menyemangatimu pada pilihanmu itu. Cinta-Nya begitu besar kepada-Mu, Robert. Waktumu tinggal esok, selamat berefleksi,” pastor menyudahi perbincangannya dengan Robert.

“Terima kasih, romo,” jawab Robert sambil berdiri dan meninggalkan ruangan pastor.

Dibantu dalam keheningan ia memasuki malam. Robert harus siap memutuskan sesuatu hal yang tidak pernah ia alami semasa hidupnya. Ini adalah masa depannya. Dia termenung. Dia menangis. Semua perasaan sedih, kacau, berantakan menjadi satu. Dia bagai dihempaskan oleh angin yang begitu kencang. Tak pernah ia rasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Begitu kelam.

Dia berjalan menuju sebuah ruangan. Ruangan itu sebagai tempat peraduannya yang terakhir di dalam keheningan. Kapel[4]. Di sana ia memulai pergulatannya. Pergulatan antara dirinya sendiri dan Tuhan. Dia tidak mau memilih tanpa memiliki dasar dan motivasi yang kuat. Saat itulah, dia memulai electio nya.

Satu jam berlalu. Dua jam berlalu. Tak lama kemudian, hati Robert terasa sedikit lebih tenang di dalam permenungannya. Tiba-tiba saja dia teringat akan sebuah lagu. ‘Let It Be’. Sebuah lagu milik band favorit ternama pada zaman 1960-an, The Beatles. Dulu semasa ia kecil, lagu ini kerap dinyanyikan oleh ayahnya.

“Ayah itu lagu apa?”

Let It Be karangan The Beatles, anakku.”

“Bagus yaa, yah liriknya. Lagunya juga enak didengar,” komentar Robert atas lagu yang didengarnya. Dari kecil, Robert memang sudah sangat mahir dalam bahasa Inggris. Ia kerap memenangkan banyak lomba yang berhubungan dengan bahasa Inggris. Sehingga ia tahu sedikit arti dari lirik lagu tersebut.

“Lagu ini ingin mengajak kita untuk berserah dan percaya kepada Tuhan. Percaya, kalau semua masalah itu pasti ada jalan keluarnya. Tapi juga harus dibarengi dengan usaha yang besar. Kelak kau akan mengetahui makna yang begitu besar dalam lagu ini, nak,” pesan ayah Robert sambil mengelus kepala anaknya yang masih seumur jagung itu.

Robert terbangun dari lamunannya. Ia tersenyum tipis dan bergumam untuk menghibur dirinya sendiri.

When I find myself in times of trouble, Mother Mary comes to me. Speaking words of wisdom, let it be. And in my hour of darkness she is standing right in front of me. Speaking words of wisdom, let it be. Let it be, let it be, let it be, let it be. Whisper words of wisdom, let it be.

Keesokan harinya, Robert tidak terlihat seperti biasanya. Pribadinya yang ceria seakan-akan terhempas bagai pasir terkena desiran ombak. Robert menjadi pribadi yang lebih suka menyendiri. Teman-temannya mengerti apa yang sedang dialami oleh Robert. Mencoba untuk mengerti, lebih tepatnya.

Tak terasa malam semakin larut. Bulan sedang berusaha menunjukkan kemegahannya dalam menguasai gelapnya malam. Terlihat Robert memasuki lagi ruangan yang kemarin ia kunjungi. Sudah sekitar satu jam Robert berada di ruangan itu. Tak lama kemudian, pintu ruangan pun terbuka. Robert menuju ke lapangan basket. Tempat ia menjalani hobinya setiap minggu bersama teman-temannya. Robert berdiri di tengah-tengah lapangan.

Terlihat Robert mengeluarkan sesuatu. Sesuatu yang dipinjamnya dari Romo Tanto. Handphone. Ternyata siang tadi, Robert sudah meminta izin kepada pastor. Dia meminta izin untuk mengirim sms kepada seseorang dengan meminjam handphone pastor. Pastor dengan senang hati mengizinkannya. Alasan Robert sangat jelas. Dia ingin menyelesaikan semuanya. Robert telah menceritakan semua hasil permenungannya kepada pastor.

Jari-jari Robert mulai mengetik sms dengan perlahan. Terkadang seluruh tubuhnya terhenti, tak berdaya. Tidak tahu kata-kata apa lagi yang ingin ia tuliskan. Dia tidak ingin sampai salah dalam menjelaskan semuanya. Semua yang sedang ada di dalam hati dan pikirannya. Terkadang tangannya bergetar. Peluhnya berjatuhan, menikmati sentuhan di bawah terangnya cahaya malam. Perasaan teramat dalam dan tak terlupakan. Namun dengan kekuatan dalam dirinya sediri itulah, akhirnya pesan itu pun terselesaikan.

Pesan itu hanya tinggal diketikan pada tombol ‘send’. Tapi keraguan masih menyelimutinya. Robert sadar kalau dia tidak dapat berada dalam kebimbangan seperti ini terus-menerus. Dengan hati yang kuat dan siap akan segala konsekuensi yang ada, akhirnya dia kirimkan sms itu. Setelah dia mengirim sms itu, semua terasa lega. Dia bagaikan terlepas dari rantai yang sudah lama menjeratnya. Dia merasakan kebahagiaan yang teramat dalam. Pesan di dalam sms itu sudah menjelaskan semuanya.

Setelah itu, Robert terdiam. Dia hanya ditemani oleh desiran angin malam. Angin itu seolah-olah mencoba ingin mengerti akan apa yang ada di hati dan pikiran Robert. Robert teringat akan pesan terakhir Pastor kepadanya, “Robert, yang indah hanya sementara. Yang abadi adalah kenangan. Yang ikhlas hanya dari hati. Yang tulus hanya dari sanubari. Tidak mudah mencari yang hilang. Tidak mudah mengejar impian. Namun yang lebih susah mempertahankan yang sudah ada. Karena walaupun tergenggam bisa terlepas juga. Ingatlah pada pepatah, ‘Jika kamu tidak memiliki apa yang kamu sukai, maka sukailah apa yang kamu miliki saat ini’.”

Pesan itu seakan-akan menghentak, namun juga menguatkan hatinya. Dijadikannya pesan itu sebagai hidangan penutup malam yang panjang. Saat itu Robert mulai berharap. Dia tidak ingin bangun sampai waktu yang ditentukan oleh-Nya datang.

Desember 2012

Terlihat seorang perempuan berparas cantik berlari begitu kencang. Wanita itu berlari laksana rusa merindukan air sungai. Bersama mega-mega, dia menembus waktu dengan penuh ketegaran. Dia paksa untuk melihat kenyataan yang ada di hadapannya.

Niken. Mata memang tidak pernah dapat menipu. Di balik keelokan wajahnya, Niken seperti menyembunyikan sesuatu. Sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh orang lain namun hanya dapat dirasakan oleh dirinya sendiri. Perasaannya sendiri. Dia sudah mencoba sekuat hati untuk menutupi. Namun ternyata, dia gagal membendungnya. Air matanya telah menetes begitu deras. Terlihat Niken memeluk seseorang yang sudah ada di hadapannya. Pribadi yang sudah tidak asing lagi bagi mata dan hatinya. Robert.

“Hampir saja aku melewati moment yang sangat berharga dalam hidupku. Sudah dua tahun kita tidak bertemu dan lihatlah dirimu sekarang ini,” kata Niken sambil menahan isak tangisnya. Ia terlihat terbata-bata dalam mengungkapkannya.

Robert membalasnya dengan senyuman dan berkata, “Aku juga menunggu kehadiranmu daritadi.”

Air mata Niken terlihat begitu deras. Air mata itu terus membasahi manusia yang telah berjubah itu. Ternyata sudah dua tahun kedua insan ini terpisahkan oleh jarak dan waktu. Bukan waktu yang sebentar bagi mereka. Akhirnya, Robert ternyata lebih memilih jalannya untuk menjadi seorang frater. Dia sudah memutuskan sesuatu dengan penuh kemantapan dan keyakinan. Dia yakin bahwa pilihannya itu adalah tepat dan tidak akan mengecewakan siapa pun.

“Jadi ini yang kamu maksud dari sms mu dua tahun silam. Kamu sudah memilih jalan hidupmu sendiri. Kamu hebat. Inilah pribadi Robert yang aku kenal. Pribadi yang bisa mencintai dan komitmen dengan pilihannya,” tutur Niken sambil melihat kembali penampilan Robert. Niken masih tidak percaya melihat orang yang sangat disayanginya dulu, sekarang sudah mengenakan jubah. Ia coba menghapus air mata kebahagiaannya. Tapi terasa sulit.

Robert berkata, “Aku yakin, kau juga akan bahagia dengan jalanmu. Carilah pendamping hidupmu. Pilihlah pilihan yang terbaik dari yang terbaik.” Niken membalas pesan Robert dengan anggukan hangat.

Robert tersadar. Masih banyak tantangan yang sudah siap menyambutnya. Saat itulah sebuah pilihan harus dapat dipertanggungjawabkan. Hidup adalah pilihan. Bukan masalah memilih. Melainkan, bagaimana kita dapat mencintai pilihan yang sudah kita pilih dan hidupi tersebut. Robert sadar akan cinta Tuhan yang begitu besar. Robert sadar bahwa tantangan di zaman ini juga semakin besar. Yang terdahulu, dijadikannya sebuah pelajaran. Itu hanyalah satu dari sekian banyaknya tantangan dalam dunia orang selibat. Hanya Tuhan yang dapat dijadikan sebagai pijakan dan kekuatan.

Sambil memeluk Niken kembali, Robert menengadah ke langit. Dia seperti mengatakan sesuatu. Tapi tidak ada satu pun yang mendengar dan mengerti apa yang dikatakannya. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Ad Maiorem Dei Gloriam[5].”


[1] Bahasa Latin: Pilihan.
[2] Bahasa Latin: Berjalan. Kesempatan bagi para siswa di seminari untuk berjalan-jalan dan berinteraksi dengan dunia luar.
[3] Panggilan untuk seorang pastor dalam bahasa Jawa.
[4] Sebuah tempat untuk berdoa.
[5] Bahasa Latin: Demi Kemuliaan Tuhan yang Besar.

Tangerang, 16 Oktober 2012 (Pukul 02.27)

Nikolaus Harbowo (Universitas Multimedia Nusantara)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s