Acara Komedi atau Acara Kekerasan?

Tv sebagai salah satu media yang cepat dan mengglobal memberikan banyak dampak kepada masyarakat yang menontonnya. Dampak itu tergantung pada 2 hal, pertama dari apa yang disiarkan dan yang kedua kepada siapa acara itu disiarkan (penonton). Dilihat dari segi penonton, penonton tidak hanya berasal dari kalangan orang tua namun juga anak – anak / anak di bawah umur yang masih dalam proses pengambilan budaya / tingkah laku dari luar.

Dewasa ini acara tv di Indonesia sudah mulai beragam, seperti halnya sinetron, gosip selebriti, ftv, talkshow, berita, dan hiburan. Memang sebagian acara banyak yang mendidik, namun tak dipungkiri dari sekian banyaknya acara yang ditayangkan tersebut banyak pula acara yang tidak jelas tujuan dan tidak memilki nilai yang ingin di sampaikan kepada penonton. Jika kalian search di google dengan kata kunci “acara tv yang tidak mendidik di Indonesia” maka kalian akan menemukan sekitar 298.000 tentang acara tv yang tidak mendidik di negeri kita tercinta ini.

Ternyata sinetron, gosip selebriti, dan acara komedi termasuk peringkat teratas sebagai acara tv yang tidak mendidik. Namun pada kesempatan ini, saya lebih memilih acara komedi untuk ditelusuri keburukannya. Telah kita ketahui jumlah penonton acara komedi pun tidak sedikit, seperti halnya acara OVJ dan Bukan Empat Mata. Sebenarnya tidak dipermasalahkan adanya acara komedi di tv, terlebih acara – acara tersebut memiliki tujuan untuk menghibur penonton yang baru pulang dari kerja. Namun kita juga harus mengerti bahwa penonton acara komedi itu tidak hanya terdiri dari orang tua namun juga anak – anak.

Saat ini penonton acara komedi tidak hanya dari kalangan orang tua tapi juga dari kalangan remaja dan anak – anak. Kendati acara komedi tersebut disiarkan pada malam hari, penontonnya pun tetap banyak. Mengapa? Hal ini dikarenakan, anak – anak lebih suka menonton acara tv yang menurut mereka dapat memenuhi afeksi / kegembiraan mereka. Mereka seperti acuh pada dampak negatif yang mereka terima secara langsung / tak langsung dengan melihat apa yang ada di depannya untuk ke depannya tanpa mau mengolahnya. Kita tidak bisa menyalahkan orang tua mereka. Orang tua tidak sepenuhnya dapat melihat apa yang dilakukan oleh anaknya terlebih dalam hal menonton tv.

Saya sebagai salah satu pecinta acara komedi OVJ tidak hanya melihat acara tersebut sebagai acara hiburan semata, namun juga melihat dampaknya untuk sesama dan jauh ke depan. Mungkin memang tidak hanya OVJ saja yang menyajikan acara komedi berisi adegan kekerasan dan sarkasme. Saya hanya menyebutkan salah satu contohnya saja. Sebenarnya banyak acara komedi yang menggunakan metode tidak benar dalam melucu (supaya penonton terhibur).

Di samping itu, sebenarnya percuma saja apabila setiap ada adegan memukul / mendorong ditulis “barang – barang terbuat dari bahan lunak.” Sekarang pertanyaan yang ingin saya lontarkan adalah: Apakah kalau anak kecil melakukan hal yang serupa (memukul/mendorong, dll), mereka masih memikirkan barang yang digunakannya itu adalah benda lunak atau keras? Tidak, bukan. Mereka hanya akan melakukan apa yang dilihatnya tanpa berpikir jauh ke depan akan dampaknya. Marilah kita kalau melucu tidak hanya dengan menggunakan kalimat kasar / sarkasme. Untung saja OVJ tidak selalu siaran langsung, karena jika siaran langsung pasti akan banyak kata – kata berbau sarkasme di dalamnya. Bagaimana tidak, saya pernah melihat siaran yang tidak langsung saja masih banyak yang disensor.

Saya tidak melarang dan meminta agar acara di atas dihapus atau dipindahtayangkan. Namun saya hanya menyarankan apabila acara tersebut tetap ditayangkan agar para pemain atau artis di dalam acara tersebut seperti Andre Taulani, Sule, Parto, Azis, dkk, dapat memposisikan dirinya sebagaimana mestinya yang adalah public figure. Hal itulah yang terpenting. Para pemain agar menggunakan etiket dalam berbicara. Sehingga pensensoran kata atau kalimat sarkasme yang tidak seharusnya dikeluarkan itu tidak ada.

Kekerasan di dalam acara komedi seperti memukul menggunakan properti yang ada / mendorong agar dihapuskan. Perbuatan seperti itu sebaiknya tidak digunakan sebagai media melucu supaya penonton tertawa. Mengapa? Karena perbuatan itu memang tidak pantas untuk dipublikasikan di depan umum. Saya lebih tertarik pada acara komedi yang bersifat mendidik layaknya standupcomedy. Acara yang seperti demikian malah berkembang begitu cepat tidak hanya di Indonesia namun juga di Amerika. Hal ini dikarenakan, acara ini memang terbukti sangat mendidik dengan penyindiran – penyindiran yang dilakukan bukan hanya sekedar penyindiran kosong tanpa arti namun memiliki dasar dan intelegence untuk perubahan yang lebih baik. Penyindiran pun tidak menggunakan kalimat kasar atau bersifat sarkasme di dalamnya. Ironisnya, sebenarnya sudah banyak ketidaksetujuan tentang hal ini, tapi tetap saja tidak ada perubahan.

Nikolaus Harbowo (Universitas Multimedia Nusantara)

One thought on “Acara Komedi atau Acara Kekerasan?”

  1. You post interesting posts here. Your blog deserves much more traffic.
    It can go viral if you give it initial boost, i know very useful tool that can help you,
    just search in google: svetsern traffic tips

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s