Keramahan Di Balik Keindahan

Keindahan Desa Tangkil, Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Jawa Tengah tak terlukiskan dengan kata-kata. Desa yang letaknya kuranglebih 7-8 km dari Gunung Merapi ini,memberikan inspirasi dan pelajaran berharga bagi kehidupan manusia dalam hubungannya dengan alam. Keindahan alam ini mau menggambarkan kedekatan hubungan antara Tuhan, manusia dan alam. “Kami segenap umat di Desa Tangkil, menganggap air di tempat ini sebagai ibu kami. Mengapa? Karena, air itu sendiri berasal dari bumi yang mana telah diberikan oleh Tuhan. “ungkap Pak Revo salah satu anggota dari tim Edukasi Tuk Mancur. Di Desa ini, air merupakan segala-galanya. Sehingga, umat Desa Tangkil yang berjumlah sekitar 800 jiwa, dengan penuh kebahagiaan, menjaga, menghormati dan mensyukuri akan cinta kasih Tuhan lewat alam yang indah yang telah diberikan-Nya. Umat yang banyak tersebut tergabung dalam Paroki Sumber, yang dirangkul oleh dua orang Imam yang setia dalam menyayangi umat sekitar. Kedua Imam tersebut adalah Rm. Suprihadi Pr dan Rm. Kirjito Pr.

Banyak keunikan-keunikan dan keindahan-keindahan yang terdapat di Desa Tangkil. Salah satunya yaitu adanya beberapa penampungan air yang dapat dikatakan tidak terlalu besar. Air di penampungan itu diisi oleh mata air Kali Lamat, sebuah kali yang mengalir di daerah Desa Tangkil tersebut. Dan dari penampungan air itu di salurkan kerumah-rumah penduduk dengan mengenakan selang-selang yang cukkup besar. Selain itu, umat disana juga merasa ada yang kurang apabila dirumahnya tidak memiliki anjing. Sebab disana anjing merupakan hewan peliharaan yang cukup favorit. Masyarakat disana juga ada yang memelihara hewan-hewan peliharaan lainnya yang digunakan untuk kepentingan bertani. Sebab mayoritas mata pencaharian masyarakat Tangkil adalah petani.

Kesederhanaan, keramahan dan kepolosan cinta kasih umat disana menjadi inspirasi bagi orang yang berkunjung kesana. Kesederhanaan hidup membuat mereka menjadi lebih tenteram dan bahagia. Alam Merapi telah menyediakan kehidupan dan kebahagiaan bagi mereka dan keluarganya. Iman, harapan dan kasih akan alam menjadi modal utama bagi masyarakat di Desa Tangkil dalam menjalani hidupnya.

Kedamaian hidup bukan karena fasilitas dan sarana hidup yang mewah akan tetapi terletak dalam hati yang sederhana dan penuh dengan rasa syukur akan Tuhan. Warga masyarakat berjalan mendaki berkil-kilo menuju lereng Gunung Merapi demi memelihara tanaman-tanaman dan mencari kayu bakar di lereng Gunung Merapi. “Biasanya para petani atau pencari kayu bakar, berangkat menuju lereng Gunung Merapi pada jam 8 pagi setelah anak-anaknya berangkat ke sekolah,” ungkap salah satu umat disana. Itulah kehidupan mereka, sehingga membuat Gunung Merapi menjadi sahabat yang mencukupi kehidupan mereka.

Banyak orang-orang yang datang untuk berkunjung ke tempat itu. Mereka menganggap tempat itu adalah salah satu tempat yang indah dan menarik. Sehingga, dahulu pernah mendapatkan kunjungan dua ribu remaja yang datang dari berbagai kota besar, seperti; Jakarta, Semarang, Surabaya dan masih banyak lagi. Walaupun disana mayoritas adalah beragama Kristiani, tetapi tidak menghalangi mereka dalam memberikan pelayanan, keramahan dan ketulusan sebagai tuan rumah. Bahkan ada juga beberapa turis dari berbagai negara yang datang untuk mengunjungi daerah itu. Orang-orang senang tinggal ditempat itu. Mereka merasakan ada sesuatu yang sangat istimewa di tempat yang indah itu. Contohnya adalah “Pedhotan Sewu”, DAM”, dan mata air Kali Lamat.

Di Desa Tangkil juga terdapat sebuah tim yang akan membantu untuk mengetahui seluk beluk mengenai alam di Lereng Gunung Merapi. Tim ini kerap disebut,”Tim Edukasi Tuk Mancur.” Tim ini baru saja menerima kunjungan dari para seminaris Medan Pratama dari Seminari Menengah Mertoyudan Magelang yang pada tanggal 25 Januari 2009 berkunjung ke sana. Disana para seminaris diajak untuk live-in dan mengikuti pola hidup menurut rumah yang ditempati para seminaris. Dalam kegiatan ini seminaris dipanggil untuk membalikkan diri untuk mengabdi kedamaian dalam kesederhanaan. “Tak lupa disana seminaris juga melihat pengalaman masyarakat di Desa Tangkil dalam memperjuangkan kehidupan ini,” tegas Romo Saptana Hadi selaku pamong dari seminaris Medan Pratama, banyak yang didapat oleh para seminaris dengan diadakannya live-in tersebut, dengan kesaksian dari umat sekitar sampai dengan misteri tentang alam di lereng Gunung Merapi ini.

Di Desa Tangkil seminaris banyak belajar dari alam yang dipandu oleh tim Edukasi Tuk Mancur,terutama mengenai keberadaan air didunia ini. Para seminaris juga diajarkan bagaimana jerih payah seorang petani dalam mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Para seminaris diajarkan pula bagaimana menghormati jerih payah dan keringat seorang petani. Hal itu tersampaikan dengan adanya kegiatan-kegiatan yang dilalui oleh para seminaris. Seminaris juga dibimbing agar merasakan bagaimana proses membajak sawah sampai dengan memanen hasil.

Setelah melakukan susur Kali Lamat, seminaris dengan didampingi oleh Rm. Suprihadi Pr. dan Rm. Saptana Hadi Pr. mengadakan misa alam. Misa itu diadakan di alam terbuka dimana sawah tersebut milik petani di desa setempat yang baru saja memanen hasil jerih payahnya. Setelah misa alam para seminarispun di sambut dengan secangkup nasi organik dengan sayur singkong. Nasi organik adalah nasi yang penanamannya tanpa menggunakan bahan-bahan kimia. Padi itu ditanam dengan pupuk kandang dan tidak menggunakan pestisida dan pupuk nonorganik lainnya. Jadi kualitas beras dan rasanya sangat terjamin. Nasi itu biasa disebut dengan “nasi doa.” Karena kita harus mensyukuri atas karunia Sang Pencipta yang sangat besar. Sekarang ini beras organik sudah tidak banyak ditemui. Dan para petani disana yang mananam beras organik cukup sedikit,hal itu dikarenakan, untung yang didapat juga tidak terlalu besar.

Masyarakat disana akan merasa sangat senang dengan kehadiran para tamu. Dan tamu itu akan disambut layaknya seperti seorang saudara bahkan keluarga sendiri. Mereka akan menyambut dengan suasana yang hangat,bersahabat dan penuh dengan rasa kebahagiaan. Senyum dan tawa akan jelas dari wajah mereka sehingga seakan-akan keceriaan itu menghiasi suasana di Lereng Gunung Merapi yang menjadi semakin indah dibawah kemegahan cinta kasih Tuhan.

Nikolaus Harbowo (SMA Seminari Menengah Mertoyudan)

http://www.seminarikwi.org/cetak.php?id=53 (30-07-2009)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s