Menemukan Diri Via Mata Batin

Sebagian orang mengatakan bahwasanya panggilan Tuhan dan keheningan didefinisikan begi mereka kaum religius atau kaum selibater. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa kita semua yang adalah makhluk ciptaan-Nya juga terpanggil dan sangat membutuhkan keheningan di dalam kehidupan kita. Seperti yang kita ketahui, keheningan itu membuat sebagian orang khususnya pada diri kaum muda seakan-akan menemukan sesuatu yang paling berharga di dalam hidupnya. Namun untuk memperoleh hal itu, perlu adanya pengolahan mata batin terhadap masing-masing pribadi.

Para siswa Kelas Persiapan Pertama dari Seminari Menengah Mertoyudan tepatnya dari tanggal 6-9 Maret 2009 telah mencoba untuk mengolah hal yang bersifat abstrak tersebut. Kegiatan ini biasanya disebut dengan triduum atau pada umumnya, banyak sekolah menyebut kegiatan semacam ini dengan retret. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini terlaksana di Sasana St. Maria Pangesti Wening, Ambarawa yang dikelola oleh Kongregasi Suster-Suster St. Fransiskan Semarang.

Kegiatan yang bertemakan mata batin ini telah menggugah para siswa untuk lebih dapat menyadari diri di dalam pengolahan mata batin. Kegiatan ini tidak lepas dengan adanya sebuah tujuan yaitu mencoba memperkecil bagian atau pengalaman-pengalaman yang tidak pernah tersadari. Sehingga membuat para siswa semakin sadar akan hidupnya. Harapan dengan berlangsungnya kegiatan ini yaitu membimbing para siswa agar kesadaran yang telah ditimbulkan semakin dibangun dan diorientasikan kembali.

Kegiatan yang terdiri dari delapan sesi ini dipimpin oleh Romo Blasius Edy Wiyanto, Pr. Beliau adalah seorang imam yang sudah tujuh bulan bergelut sebagai Pastor Mahasiswa Kevikepan Semarang. “Keheningan adalah menggunakan diri sepenuhnya untuk lebih merasakan mata batin kita,” tutur Romo yang kerap kali dipanggil dengan Romo Edy ini. Gagasan yang beliau utarakan tersebut membuat para siswa menyimpulkan bahwa, mata batin membuat hidup lebih fokus dan memandang ke depan sehingga dapat menemukan diri dan panggilan Tuhan.

Selama kegiatan ini berlangsung, tidak lupa para siswa juga dibimbing untuk lebih mencintai keheningan. Hal itu dikarenakan pada jaman ini banyak kaum muda sangat sulit dibimbing untuk mempunyai hubungan intim bersama Tuhan di dalam keheningan. Mereka tidak pernah menyadari bahwa ada banyak makna atau buah rohani yang dapat dipetik dari keheningan tersebut. Kendati demikian, para siswa tetap antusias dalam menjalani kegiatan yang diadakan. Hal itu terlihat dari para siswa dalam menjalankan tugas-tugas atau hal-hal yang diberikan. Tugas-tugas atau permenungan yang diberikan pun tidak dilaksanakan dan dikerjakan secara kelompok melainkan secara perseorangan. Sehingga para siswa lebih dapat melihat keadaan dirinya sendiri dengan penuh penghayatan iman. Tidak hanya itu, secara tidak langsung Romo Edy juga dapat memvisualisasikan pengalaman-pengalamannya atau perumpamaan-perumpamaan yang beliau berikan. Sehingga para siswa tetap merasa senang dan perhatian walaupun harus duduk di kursi selama kurang lebih satu setengah jam setiap sesinya.

Di dalam kegiatan ini para siswa dibimbing untuk mencintai keheningan dengan banyak hal, contohnya dengan meditasi, berdoa, sampai makan pun para siswa dibimbing untuk lebih hening. Sehingga para siswa sungguh-sungguh dapat menemukan sesuatu yang paling berharga di dalam hidupnya dan dapat membangun relasi bersama Tuhan.

Di lain sisi para siswa dibimbing untuk memperteguh panggilan yang telah diberikan oleh Tuhan. “Seperti halnya dengan terbentuk sebuah keluarga dan sebagian orang yang memiliki pekerjaan, itu semua adalah panggilan Tuhan,” tegas Romo Edy. Para siswa pun dibimbing agar dapat menanggapi panggilan Tuhan melewati orang-orang miskin dengan melihat kenyataan-kenyataan yang ada di luar. Para siswa berpencar dengan kelompok yang sudah ditentukan menuju Pasar Projo. Namun setelah itu ada pula beberapa kelompok yang menuju tempat-tempat di sekitar Ambarawa, seperti Pasar Surabaya, Goa Maria Kerep, dan lain-lain. Kegiatan semacam ini dinamakan dengan Desert Day. Desert Day di sini dimaksudkan untuk membentuk diri agar lebih menarik diri dalam keheningan dan mengalami pengalaman seakan-akan seperti di padang gurun.

Sebagai pendalaman akhir dari kegiatan ini, para siswa dibimbing untuk mengalami sebuah siklus perubahan seperti halnya yang dialami pada burung elang. Hal itu dikarenakan burung elang rela selama seratus lima puluh hari mengalami sesuatu yang menyakitkan bagi fisiknya demi dapat bertahan hidup mencapai tujuh puluh tahun. Hal itu menunjukan pada para siswa bahwa proses perubahan itu sangat perlu. Walaupun menerima atau bahkan mengalami sesuatu yang pahit namun tanpa disadari bahwa suatu saat kita akan mendapatkan manfaat yang sangat besar dan mempunyai  relevansi bagi kehidupan kita sesuai dengan panggilan Tuhan.

Nikolaus Harbowo (SMA Seminari Menengah Mertoyudan)

http://kompas.realviewusa.com/?iid=25391&startpage=page0000008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s