Menyambut Wajah Baru Di Pemilu Legislatif 2014

http://youtu.be/vJ9fIdMH9Jo

(LEAD)

DEMI MENYAMBUT PESTA DEMOKRASI / PARA CALEG DARI BERBAGAI PARTAI BERLOMBA – LOMBA UNTUK MEREBUT KURSI SEBAGAI ANGGOTA DPRD / MAUPUN DPD DI DAERAHNYA MASING – MASING // MEREKA MENGGELAR BERBAGAI KAMPANYE UNTUK MENDAPATKAN DUKUNGAN DARI MASYARAKAT / SEBELUM PEMILU BERLANGSUNG // NAMUN DI ANTARANYA / ADA CALEG YANG MELAKUKAN PELANGGARAN SAAT KAMPANYE // BAHKAN / MEREKA RELA MENGELUARKAN BIAYA SEBESAR – BESARNYA UNTUK MENDAPATKAN DUKUNGAN TERSEBUT ///

 

(PKG)

CG JUDUL = MENYAMBUT WAJAH BARU DI PEMILU LEGISLATIF / TANGERANG, 8 APRIL 2014

PEMILU LEGISLATIF SUDAH MENDEKAT // ERA TRANSISI DEMOKRASI HARUS SEGERA DIAKHIRI // PARA CALEG MULAI BERSIASAT DEMI MENDAPATKAN SUARA TERBANYAK // KETIKA WAJAH LAMA MASIH MENDOMINASI / WAJAH BARU PUN MUNCUL PENUH PERCAYA DIRI // INILAH CALON ANGGOTA DPRD TANGSEL DAPIL DUA SERPONG UTARA DARI PARTAI NASDEM / SARIFUDIN // IA HARUS BERSAING DENGAN 60 CALEG DARI 12 PARTAI UNTUK MENDAPATKAN KURSI DI DPRD // AKANKAH SARIFUDIN BERHASIL MEREBUT HATI MASYARAKATNYA? ///

 

CG JUDUL = BERKAMPANYE DOOR TO DOORDI KAMPUNG – KAMPUNG / TANGERANG, 8 APRIL 2014

SARIFUDIN TIDAK MELAKUKAN KAMPANYE DENGAN MENGUMPULKAN BANYAK ORANG SEPERTI PADA UMUMNYA // BAGINYA / MELAKUKAN PENDEKATAN PRIBADI DENGAN WARGA ITU LEBIH PENTING ///

 

CG JUDUL = PENGABDIAN KEPADA MASYARAKATLEBIH PENTING / TANGERANG, 8 APRIL2014

SESUAI VISI DAN MISI SARIFUDIN KE DEPAN / IA HANYA MEMIKIRKAN KEPENTINGAN RAKYAT // SARIFUDIN JUGA TIDAK MENGINCAR KEPENTINGAN PRIBADI / NAMUN PELAYANAN ///

 

CG JUDUL = PESAN SURYA PALOH KEPADA SARIFUDIN / TANGERANG, 8 APRIL2014

SURYA PALOH MENGUMPULKAN PARA CALEG SE-PROVINSI BANTEN SAAT PEMBEKALAN KAMPANYE // KETUA UMUM PARTAI NASDEM / SURYA PALOH / MEMBERIKAN SEMANGAT DAN LEBIH MENGEDEPANKAN KEPENTINGAN MASYARAKAT ///

 

CG JUDUL = DOOR TO DOORLEBIH EFEKTIF DAN DEKAT DENGAN RAKYAT / TANGERANG, 8 APRIL2014

KAMPANYE DOOR TO DOOR DAPAT LEBIH MENDEKATKAN DIRI PADA WARGA // DENGAN KAMPANYE DAPAT MENGETAHUI KELUHAN DAN YANG DIBUTUHKAN WARGA // BAGI SARIFUDIN / DENGAN CARA DOOR TO DOOR LEBIH EFEKTIF KARENA DAPAT MENJALIN KEAKRABAN DAN KEKELUARGAAN DENGAN WARGA ///

 

CG JUDUL = WARGA SANGAT ANTUSIAS MENYAMBUT SARIFUDIN / TANGERANG, 8 APRIL2014

SAMBUTAN MASYARAKAT UNTUK SARIFUDIN DI DAERAH SERPONG UTARA SANGAT BAIK // HANYA TAHUN INI / ADA CALEG YANG LANGSUNG TERJUN KE MASYAKARAT // MEREKA BERHARAP SARIFUDIN DAPAT MEMBAWA PERUBAHAN DAN TAK HANYA SEKADAR JANJI ///

 

CG SOT = SARIFUDIN / CALON ANGGOTA DPRD TANGSEL DAPIL DUA SERPONG UTARA DARI PARTAI NASDEM

 

(CLOSING)

KETIKA BANYAK CALEG SEDANG SIBUK DENGAN KAMPANYE BESARNYA / SARIFUDIN HADIR DENGAN CARA KAMPANYE YANG BERBEDA // IA MENGUNJUNGI RUMAH DEMI RUMAH DI KAMPUNG – KAMPUNG UNTUK MENDEKATKAN DIRI PADA RAKYATNYA // DENGAN SLOGAN BERBUAT DAN BEKERJA UNTUK MASYARAKAT / IA YAKIN DAPAT MEMENANGKAN PEMILU LEGISLATIF NANTI // SEKARANG PILIHAN ADA DI TANGAN MASYARAKAT // SELAMAT MEMILIH ///

Advertisements

Komunikasi Antar Budaya di Film Sang Penari

ronggeng-dukuh-paruk-edisi-cover-film-sang-penari

Sutradara         : Ifa Isfansyah
Produser          : Shanty Harmayn
Penulis           : Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn
Novel             : Ahmad Tohari
Pemeran           : Prisia Nasution, Dewi Irawan, Oka Antara, Slamet Rahardjo, Landung Simatupang, Hendro Djarot, Happy Salma, Teuku Rifnu Wikana, Tio Pakusadewo, Lukman Sardi

Banyak hal yang dapat dikorelasikan antara film “Sang Penari” dan Komunikasi Antar Budaya. Melalui film yang disutradarai oleh Ifa Ifansyah ini, seakan-akan ingin memvisualisasikan sebuah gambaran kehidupan kelam bangsa Indonesia pasca tragedi 1965 khususnya di Desa Dukuh Paruk. Film yang terinspirasi dari trilogi novel ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ karya Ahmad Tohari ini ingin menunjukkan pula adanya perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan. Film ini mengisahkan ketidakadilan gender perempuan (kekerasan psikologi, fisik, pelacuran, pelecehan seksual dan kekerasan akibat kekuasaan dan kekuatan laki-laki). Hal ini khususnya dialami oleh Srintil sebagai ronggeng dari Dukuh Paruk.

Tentu hal ini sejalan dengan teori di dalam Komunikasi Antar Budaya bahwa prasangka terjadi ketika seseorang memiliki generalisasi terhadap sekelompok orang atau hal-hal, sering kali didasarkan pada sedikit atau tidak adanya pengalaman faktual. Di dalam film ini, perempuan seperti dihalalkan untuk melakukan persundalan serta perzinaan antar wagra Dukuh Paruk. Terbukti ada di bagian awal film, seorang suami atau istri yang mandul dapat berhubungan kelamin dengan ronggeng agar dapat memperoleh keturunan. Tidak ada yang dapat disalahkan karena mereka masih mempercayai hukum adat dan kepercayaan mereka. Inilah yang membuat mereka menolak kebudayaan baru yang masuk dapat memunculkan sikap etnosentrisme bagi kelompok tersebut.

Berbicara masalah budaya, tentu tidak terlepas dengan elemen budaya, yakni sejarah. Sejarah budaya adalah budaya yang disebarkan dari generasi ke generasi dan melestarikan pandangan suatu budaya. Cerita tentang masa lalu memberikan anggota dari suatu budaya dan menjadi bagian dari identitas, nilai, aturan tingkah laku, dan sebagainya. Hal itulah yang terjadi di desa Dukuh Paruk. Seorang ronggeng sudah menjadi sejarah budaya di desa tersebut. Ronggeng menjadi suatu budaya yang harus tetap dilestarikan dan sifatnya adalah turun-temurun. Begitulah yang terjadi ketika ronggeng pertama Dukuh Paruk meninggal karena keracunan tempe bongkrek buatan ayah Srintil. Srintil merasa untuk perlu melestarikan ronggeng tersebut sebagai penebusan dosa ayahnya terhadap warga Dukuh Paruk.

Sejak kecil Srintil sudah mulai melihat dan mempelajari bagaimana keindahan seorang ronggeng. Hal inilah yang membuat ia belajar dari budaya yang ada. Begitulah salah satu karakter penting dari budaya, yakni budaya itu perlu dipelajari. Seperti yang diteliti oleh Ferraro, “Anak yang lahir dalam suatu masyarakat menemukan masalah yang sudah pernah dialami oleh semua orang yang lahir sebelumnya.” Seiring dengan berpindahnya anak dari kata ke kata, kejadian ke kejadian, dan orang ke orang, mereka berusaha mengerti. Dari sinilah awal Srintil mulai mempelajari pola perilaku dan cara berpikir sampai “proses pembelajaran” dari seorang ronggeng sehingga terinternalisasi dan menjadi kebiasaan. Hal ini dikuatkan oleh pernyataan Hoebel dan Frost, “baik kondisi sadar amupun tidak sadar yang terjadi dalam proses tersebut, sebagai individu, anak atau orang dewasa, menerima kompetensi dalam budaya tertentu.”

Ronggeng Dukuh Paruk menjadi identitas regional bagi Dukuh Paruk itu sendiri. Penduduk daerah tersebut menggunakan ronggeng sebagai penunjuk identitas regional serta karakteristik dari daerah mereka. Daerah ini memiliki warisan sejarah yang kuat secara turun-temurun. Seakan-akan ronggeng ini menjadi nilai budaya yang menentukan apa yang layak diperjuangkan hingga mati, apa yang pantas untuk dilindungi, dan apa yang perlu dipelajari.

Ada sebuah tahapan di mana ronggeng menjadi sebuah perilaku yang patut dicontoh oleh Srintil.

Kepercayaan –> Nilai –> Sikap –> Perilaku

Di sini Srintil dipercaya untuk menjadi ronggeng oleh warga Dukuh Paruk. Hal ini dibarengi oleh keinginan Srintil yang mengembalikan nama baik keluarganya. Srintil juga ingin mengangkat nilai budaya yang sudah lama ditanamkan oleh warga Dukuh Paruk. Dari sinilah Srintil mulai dikenal dengan pribadi ronggeng yang tepat dan siap untuk menggantikan ronggeng yang sebelumnya. Semua hal itulah yang membuat sikap Srintil semakin bulat untuk menjadi ronggeng. Kendati Rasus tidak suka dan tidak menyetujui hal itu, namun Srintil tetap mengambil pilihannya. Perilaku Srintil pun menjadi berubah semenjak ia menjadi ronggeng. Ia makin diyakini memiliki indang atau roh ronggeng. Kemudian Srintil dibawa ke dukun ronggeng dan “dipoles” menjadi ronggeng yang sesungguhnya. Srintil yakin menjadi seorang ronggeng lebih terhormat daripada menjadi seorang perempuan biasa.

Budaya di Dukuh Paruk juga didasarkan melalui simbol. Hal ini terlihat melalui keris Ronggeng Surti. Keris itu diberikan oleh Rasus kepada Srintil karena Rasus melihat kebulatan tekad Srintil menjadi ronggeng. Walaupun demikian Rasus sendiri tidak mendukung Srintil untuk menjadi ronggeng. Filosofinya sederhana dan merupakan kecemburuan pacar yang tak mampu melawan kehendak Dukuh Paruk.

Kisah ronggeng Dukuh Paruk ini sangat terkait dengan orientasi nilai Kluckhohn dan Strodtbeck. Di mana budaya memiliki perilaku dan persepsi berbeda terhadap masa lalu, masa kini, dan masa depan. Terlihat para warga Dukuh Paruk dan Srintil memiliki orientasi masa lalu. Di mana budaya dan orientasi mereka menekankan pentingnya masa lalu, dan menggunakan apa yang telah terjadi sebelumnya sebagai dasar pemikiran mereka terhadap manusia dan suatu kejadian. Sosok ronggeng menjadi sosok yang diturun-temurunkan dan disahkan oleh Dukun ronggeng. Hal ini sama dengan apa yang telah dikatakan oleh Richmond, McCracken, dan Paye, “Budaya yang memiliki filosofi terorientasi pada masa lalu cenderung menggunakan masa lalu sama dengan situasi yang baru. Masyarakat ini menghormati orang yang lebih tua dan mendengarkan warga senior mengenai masa lalu.”

Pada intinya para warga Dukuh Paruk memang memiliki penghargaan terhadap sejarah dan menetapkan institusi sosial. Sayangnya, mereka terlalu tertutup dengan adanya budaya baru di luar bagai memakai kacamata kuda. Berbeda dengan pemikiran Rasus yang memiliki orientasi masa depan. Rasus lebih menekankan pada perubahan. Ia memanfaatkan kesempatan, penekanan pada masa lalu, dan optimisme adalah ciri-ciri budaya. Hal ini terbukti ketika ia sangat marah kepada Srintil yang harus menjadi rongggeng. Namun memang untuk merealisasikan pemikiran Rasus ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Orang yang memiliki orientasi masa lalu terlihat sangat kuat dalam menurunkan tradisinya dan orang yang memiliki orientasi masa depan kurang menghargai budaya atau tradisi serta kebiasaan di masa lalu. Hal ini sama halnya dengan yang diungkapkan oleh Adler.

Adanya unsur budaya maskulin dan feminim juga terlihat di film ini. Maskulin merujuk pada nilai dominan dalam suatu masyarakat dominan pada laki-laki. Adler melaporkan bahwa budaya maskulin memberikan arti dari peranan gender dan mempromosikan kesuksesan karier. “Ketegasan dan pemerolehan uang dan materi.” Ditekankan kadang menjadi lebih penting dibandingkan uang dan materi. Jadi memang terlihat semua menonjolkan materi untuk mendapatkan ronggeng, entah itu sudah bersuami atau belum. Karena memiliki kepercayaan kalau sudah bercinta dengan ronggeng, yang tadinya tidak bisa beranak akan bisa beranak.

Feminim juga mendukung kesetaraan gender dan menganggap bahwa manusia dan lingkungan itu penting. Hal ini terjadi ketika mereka lebih mementingkan untuk sosialisasi dan penurunan kebudayaan. Bukan hanya urusan dapur, kamar, dan sumur. Penggambaran tentang sosok Srintil juga terbilang sangat detail. Kewanitaannya dideskripsikan dengan sangat jelas, meliputi ciri-ciri, karakter, perasan sekaligus sifat yang menggambarkan diri seorang wanita yang memiliki banyak keunikan. Keinginan untuk dipuja, menjadi pusat perhatian, dicintai, mencintai, dihargai dan dilibatkan dalam setiap aspek kehidupan di film ini.

Di dalam film ini juga melingkup berbagai elemen kebudayaan yang ada, bahasa dan dialek, serta peribahasa. Bahasa yang digunakan di dalam film adalah bahasa Banyumas. Hal inilah yang patut diapresiasi karena terlihat sekali unsur ke-Indonesiaannya. Banyumas termasuk ke dalam bahasa Jawa. Namun bahasa Jawa ini memiliki kekhasan masing-masing di tiap tempat yang berbeda, seperti Jawa Timur, Banyumas, dan Yogyakarta. Dan kemungkinan juga memiliki arti yang berbeda. Itulah yang dinamakan dialek. Pemain utama Prisia Nasution sebagai Srintil dan Rasus yang bukan merupakan penduduk asli Banyumas dapat memerankan dengan menggunakan bahasa Jawa yang ngapak-ngapak dengan baik.

Budaya terbentuk karena adanya peribahasa ini juga terlihat ketika Srintil merasa bahwa meronggeng adalah takdir yang harus dijalaninya. Bagi orang Dukuh paruk ada peribahasa yang menjadi pedoman hidup, yaitu “Narimo Ing Pandhum” atau menerima apapun takdir yang diberikan oleh Tuhan.

Belajar Hidup Dari Bola Basket

166628_1519932372514_4887072_nFoto 1: Tatapan Nikolaus Harbowo yang selalu haus akan bola basket saat di lapangan basket SMA Seminari Mertoyudan.

IMG_0060Foto 2: Nikolaus Harbowo sedang spin the ball di depan patung Monumen Bambu Runcing, Muntilan.

SONY DSCFoto 3: (ka-ki) Montanus Barep, Christoforus Gita Dananjaya, Nikolaus Harbowo saat bermain basket melawan SMA PL Van Lith Muntilan di lapangan basket SMA Seminari Mertoyudan.

60260_1382504576905_1660702327_2993553_2114579_nFoto 4: (ka-ki) Gerry Andrian, Nikolaus Harbowo, Yohanes Yuditya Harmandika, dan Arnlodus Andre sedang berpose di ruang kelas XI-IPA SMA Seminari Mertoyudan setelah lelah bermain basket.

68830_1418710642034_1660702327_3055953_7897075_nFoto 5: Nikolaus Harbowo sedang asik mencoba berbagai gaya streetball bersama Robertus Koekuh.

SONY DSCFoto 6: Nikolaus Harbowo sedang asik mencoba berbagai gaya streetball bersama Guido Caesar sebagai korbannya.

SONY DSCFoto 7: Nikolaus Harbowo berhasil memasukkan bola ke dalam kolong kaki Guido Caesar.

SONY DSCFoto 8: Nikolaus Harbowo sedang asik mencoba berbagai gaya streetball dan lagi-lagi bersama Guido Caesar sebagai korbannya.

streetballersFoto 9: Inilah saat di mana Nikolaus Harbowo berpose bersama Albertus Gatot, sang guru streetballnya. Saat ini dia sedang menjalani pendidikan sebagai seorang Frater Projo Bandung.

Aku mengenal bola basket bukan dari waktu yang singkat, tapi sejak aku berada di kelas 4 SD. Awalnya, aku tertarik karena aku melihat teman-temanku mengisi waktu jam istirahat mereka dengan bermain basket di lapangan sekolah. Aku melihat kebahagiaan tergores di wajah mereka. Mereka terlihat begitu menikmati permainan basket tersebut. Hal itulah yang seolah-olah memanggilku untuk ikut bergabung dengan mereka.

Keesokan harinya aku mulai mencari tahu ekstrakurikuler bola basket di sekolahku. Aku mulai mendaftar dan mengikuti segala prosedur latihan yang ada. Aku sangat menikmati permainan basket ini. Aku selalu merasa bahagia tiap selesai bermain basket. Sampai suatu ketika orang tuaku membelikanku bola basket. Betapa bahagianya diriku saat mendapatkan bola basket untuk pertama kalinya.

Kebahagiaanku makin terwujud ketika aku berada di kelas 5 SD. Aku memasuki tim inti basket putra. Saat itu aku pertama kalinya bersama tim basketku mewakili bertanding melawan sekolah lain. Sayangnya, aku bersama tim basketku kalah di pertandingan. Kita masih mementingkan ego kita masing-masing dalam bermain basket. Padahal di dalam bermain basket, kehebatan seseorang itu bukanlah segalanya. Hal yang terpenting adalah kerja sama yang baik dari sebuah tim untuk mencapai tujuan yang satu, yakni kemenangan.

Memasuki dunia SMP, aku dibelikan sepatu basket oleh orang tuaku untuk pertama kalinya. Betapa bahagianya diriku setelah sekian lama bermain basket menggunakan sepatu sekolah dan akhirnya saat itu mulai menggunakan sepatu basket. Konsekuensinya adalah aku harus tetap fokus dengan pelajaran di sekolah. Namun demikian, aku selalu memiliki pemikiran bahwa orang yang hebat dalam bermain basket itu tidak dilihat dari sepatunya, tapi dari kehebatan permainannya dengan latihan yang rutin.

Memasuki dunia SMA, aku tetap mencintai olahraga basket. Aku makin mengerti bahwa permainan basket yang aku lakukan selama ini adalah permainan basket kovensional. Semenjak aku mengenal Albertus Gatot, kakak kelasku saat di SMA Seminari Mertoyudan, aku mulai mencintai permainan streetball. Streetball adalah permainan basket yang lebih inovatif dan bebas dari aturan. Permainan basket ini lebih bertujuan untuk menghibur dan tidak terikat pada peraturan pada umumnya. Saat itulah aku makin mencintai olahraga penuh kebahagiaan ini.

Memasuki dunia perkuliahan, aku merasa jatuh cinta pada bola basket. Kendati banyak tugas dan cuaca ujan, aku selalu termotivasi untuk bermain basket. Suatu kali aku pernah sakit. Aku hanya memegang bola basket dan memainkannya di atas tempat tidur. Aku merasa bahagia dapat memegang bola basket. Sampai akhirnya, aku ketiduran dengan posisi memeluk bola basket. Aku tidak pernah merasa lelah untuk bermain basket. Hal ini mungkin dikarenakan kelelahanku itu telah tertutupi oleh rasa kebahagiaan.

Bermain basket adalah proses belajar; belajar untuk mengakui kehebatan lawan, belajar untuk mengubah kelemahan menjadi kekuatan, belajar untuk menghormati satu sama lain, belajar untuk mengenal pribadi satu sama lain, belajar untuk tidak bermalas-malas. Intinya, aku belajar untuk menjadi pribadi yang bekerja keras, bersosialisasi, dan tidak egois.

Betapa banyaknya pelajaran hidup yang telah aku dapatkan dengan bermain basket. Aku merasa bola basket sudah seperti racun di dalam hidupku. Jika aku tidak memainkannya, maka aku akan dibuatnya mati. Namun demikian, aku sangat senang karena dapat mengenali bola basket secara lebih jauh. Terima kasih bola basket.

kristoforus23's Blog

A great WordPress.com site

Diam namun bermakna

tidak semua hal yang bergerak bermakna, yang diam pun dapat bermakna

Paradox, Nightmares and Dreams

You'd feel better if you'd vent put your frustrations into four letter words

Aquila Machiavelli's words

Just another WordPress.com weblog

Lottoisme's Blog

Just another WordPress.com site

Tempus Liberum

Sebuah Blog Ditengah Waktu Luang

Thinkdore

Just be Be Brave to Try

Albus Ignatius

Pecinta dan Pecandu Kata

Jendela kata

berbagi hidup lewat kisah

Warung Pojok Gratisan

BERBAGI TANPA KOMERSIALISASI